PAREPARE - Diduga depresi, Wawan (27), karyawan yang bertugas mengurus keberangkatan penumpang Kapal Motor (KM) Queen Soya rute Samarinda-Parepare, nekat terjun dari sisi kiri dek empat kapal.
Jasad Wawan baru ditemukan Kamis, 5 April sekira pukul 08.15 Wita. Sehari setelah ditemukan, jenazah diterbangkan ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan, untuk dikebumikan di Kabupaten Bone.
Peristiwa terjadi di perairan Sungai Mahakam, Desa Pendingin Seberang, Sangasanga, Kutai Kartanegara (Kukar), Samarinda, Kalimantan Timur, satu jam setelah KM Queen Soya meninggalkan pelabuhan.
Yasser, Kepala Bagian Operasional KM Queen Soya, membenarkan insiden tersebut. Berdasarkan keterangan dari sejumlah anak buah kapal (ABK) Queen Soya, korban sempat bingung beberapa saat sebelum kapal meninggalkan pelabuhan Samarinda.
“Korban diduga tengah ada masalah berat dan terlihat depresi. Beberapa ABK kami sempat ikut menenangkan korban, sebelum akhirnya kapal berangkat meninggalkan dermaga hingga peristiwa tersebut terjadi,” ujar Yasser, Sabtu (7/4/2012).
Wawan ikut berlayar bersama KM Queen Soya, menemani kakaknya, Icang, untuk mengurus penumpang. Biasanya, kata Yasser, Wawan hanya mengurusi calon penumpang hingga di Pelabuhan Nusantara Parepare.
Setelah mengetahui ada yang loncat, KM Queen Soya, sempat berhenti di laut selama tiga jam untuk mencari korban.
Sekadar diketahui, untuk mencapai lautan, setiap kapal yang akan meninggalkan Kota Samarinda, terlebih dahulu harus melalui perairan Sungai Mahakam yang ditempuh selama empat jam.
“Setelah pihak dermaga memperbolehkan, kami melanjutkan pelayaran. Barulah kami meninggalkan Sungai Mahakam,” sambungnya.
Sementara itu, Ali, paman Wawan, mengatakan korban yang merupakan anak kelima dari sembilan bersaudara tersebut beberapa bulan terakhir terlihat bersikap aneh.
“Dia sempat bayar utang di tetangga sebelah dengan alasan takut tidak kembali lagi ke Parepare. Dengan saya, dia juga beberapa kali minta maaf,” ujar Ali.
Sesaat sebelum meninggalkan Samarinda, sambung Ali, korban sempat terlihat ketakutan. Dia mengaku kerap dikejar sekelompok orang berambut panjang dengan parang panjang di tangan.
“Keponanan saya itu seperti berhalusinasi. Di pelabuhan Samarinda, dia sempat melapor ke polisi KP3 kalau kakaknya hendak dibunuh sekelompok orang. Tapi yang kami lihat tidak ada apa-apa, hingga akhirnya peristiwa nahas itu terjadi,” katanya.
(Anton Suhartono)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.