Refleksi Hari Pahlawan bagi Pemuda

Kamis 22 November 2012 13:56 WIB
https: img.okezone.com content 2012 11 22 367 721753 mYItBS5F4e.jpg Ilustrasi : ist.

UNTUK mengenang pertempuran Surabaya, 10 november diperingati sebagai hari Pahlawan di Indonesia. Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah, perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol atas perlawanan Indonesia terhadap penjajahan.

Berbicara soal penjajahan, sudahkah saat ini kita benar-benar merdeka dari penjajahan? Menurut KBBI merdeka adalah bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Melihat dari definisi tersebut, dengan terpaksa kita harus mengatakan Indonesia belum merdeka. Mengapa?

 

Jika kita berkaca kebelakang, dulu negeri ini dijajah secara fisik oleh beberapa negara asing, yakni Belanda, Inggris, Portugis, dan Jepang). Sumber daya alam dikuasai penjajah, rakyat disiksa, dipaksa bekeja tanpa upah, dan tidak mendapatkan hak untuk berpendidikan.

 

Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan saat ini, jika dilihat dari segi politik-pemerintahan masih disetir oleh dan untuk kepentingan asing. Buktinya, dalam bentuk kerjasama antara pihak asing dan pemerintah saat ini, pihak asing mampu menguasai Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia, bahkan SDA kita didominasi oleh pihak asing. Dari aspek sosial budaya sangat nampak jelas penjajahannya, mulai dari propaganda media massa tentang gaya hidup Barat, bahkan pemikiran-pemikiran Barat  yang jelas-jelas rusak justru berjamuran di Indonesia, seperti demokrasi, kapitalisme, HAM, pluralisme, dan liberalisme. Ini adalah cara yang sangat lembut, penjajahan bukan dengan fisik, tapi dengan pemikiran.

 

Penjajah saat ini menggunakan kapitalisme-sekuler sebagai alat penajajahan, dengan demikian untuk membebaskan diri dari penjajahan harus melepaskan diri dari sistem kapitalisme-sekuler. Oleh karena itu, sebagai pemuda Muslim, sudah saatnya kita menjadi prionir dalam perjuangan melawan “penjajahan” dengan cara ikut berjuang dalam perubahan sistem yang bercokol saat ini.

 

Mari kita campakkan sistem kapitalis-sekuler, ganti dengan sistem baru yang mampu memerdekakan kita semua. Tidak lain dan tidak bukan adalah sistem Islam dalam bingkai Daulah Khilafah. Saatnya pemuda mengambil peran dengan berjuang bersama-sama untuk mengganti sistem kapitalisme dan  menerapkan Islam.

 

Sahreva Kurniati

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang

Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini