WASHINGTON - Piers Morgan mengundang perhatian ketika dirinya marah besar saat mewawancarai para pelobi senjata Amerika Serikat (AS) dalam acaranya di jaringan televisi CNN. Tetapi kini Morgan dihadapkan pada petisi yang menginginkannya untuk di deportasi keluar AS.
Morgan selama ini dikenal sebagai pembawa acara televisi berasal dari Inggris yang bekerja untuk CNN. Pada insiden penembakan di Sekolah Sandy Hook, Newton, Connecticut, Morgan kedatangan tamu diskusi dalam acara televisina yang membahas mengenai peredaran senjata di AS.
Saat itu Morgan yang dikenal keras, mendesak agar dilakukannya pengetatan aturan perederan senjata, usai insiden penembakan di Sandy Hook 14 Desember lalu. Sikap kerasnya itu dilanjutkan ketika mewawancarai direktur kelompok pembela kepemilikan senjata di Amerika Larry Pratt. Saat itu Pratt mengungkapkan, solusi mencegah insiden penembakan Sandy Hook terulang kembali adalah dengan menambah senjata.
Morgan langsung marah mendengar ucapan dari Pratt. "Anda benar-benar manusia yang luar biasa bodoh. Anda tidak memberikan argumen tidak sesuai. Anda benar-benar tidak peduli dengan angka pembunuhan dengan senjata yang terjadi di Amerika," ujar Morgan kepada Pratt, seperti dikutip CNN, Selasa 18 Desember lalu.
Menyusul wawancara tersebut, seorang jurnalis asal Texas mengajukan sebuah petisi kepada Gedung Putih. Jurnalis itu menuduh Morgan sudah melakukan serangan terhadap Konstitusi AS dengan menargetkan pada amanden kedua dari konstitusi.
"Kami mendesak agar Piers Morgan dideportasi secepatnya karena upayanya merendahkan konstitusi, serta menggunakan jaringan televisi nasional untuk melakukan serangan terhadap hak dari warga AS," isi petisi tersebut, seperti dikutip Associated Press, Selasa (25/12/2012).
Hingga saat ini petisi tersebut sudah ditandatangani oleh sekira 31 ribu warga. Jumlah itu melewati angka 25 ribu yang dibutuhkan untuk mendapatkan respons dari Pemerintah AS.
Morgan pun mengeluarkan respons mengenai petisi tersebut. Lewat akun twitternya Morgan mengeluarkan pernyataan sinis, "jika saya dideportasi dari Amerika karena hanya ingin melihat pembunuhan bersenjata berkurang, apakah ada negara lain yang bisa menerima saya?".
Menurut mantan Editor Daily Mirror tersebut, dirinya tidak ada maksud untuk menantang amandemen kedua Konstitusi AS. Ia justru mengecam upaya petisi tersebut, karena dianggap tidak melindungi hak untuk berpendapat, yang dilindungi oleh amandemen pertama Konstitusi AS.
(Fajar Nugraha)