BELFAST - Irlandia Utara terus menjadi wilayah di Inggris yang dipenuhi kekerasan antar komunitas. Konflik terbaru pecah ketika warga Irlandia Utara menolak pengibaran bendera Inggris di Balai Kota Belfast, Jumat 25 Januari waktu setempat.
Beberapa pemuda Irlandia yang menggunakan topeng sempat terlibat bentrokan dengan pihak kepolisian di jalanan Kota Belfast. Para pemuda ini bahkan melempari pihak kepolisian dengan bom molotov.
Bentrok ini dipicu ketidakpuasaan para pemuda pro-Inggris yang mengecam tindakan dewan kota, yang memutuskan untuk mengakhiri tradisi pengibaran bendera Inggris di Belfast. Tradisi ini sudah berlangsung selama berabad-abad dan mengakhiri tradisi ini membuat warga loyalis Inggris melakukan aksi kekerasan.
Aksi kekerasan sebenarnya sudah sempat mereda pada beberapa hari terakhir. Tetapi menjelang Jumat (25/1/2013) sore waktu setempat, beberapa pemuda tiba-tiba saja melempar batu, botol dan bom molotov ke arah polisi.
"Tidak ada korban luka-luka dalam kejadian ini, kami juga belum melakukan penangkapan karena masih melakukan penyelidikan dari pelaku serangan," ujar juru bicara Kepolisian Irlandia Utara, seperti dikutip Reuters, Sabtu (26/1/2013).
Kekerasan seperti ini masih terus terjadi meskipun perjanjian perdamaian antara kelompok Katolik Irlandia dengan loyalis Protestan yang lebih memilih Inggris. Perjanjian yang disepakati 1998 lalu itu, mengakhiri konflik yang sudah berlangsung hampir selama 30 tahun.
(Fajar Nugraha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.