BALIKPAPAN - Sekira dua hektare tanaman mangrove di kawasan Center Kariangau, Balikpapan Utara, Kalimantan Timur, habis dibabat orang yang diduga untuk pembangunan perumahan baru. Lokasi mangrove itu memang berdekatan dengan permukiman warga Graha Indah Kariangau.
Ketua Mangrove Center Graha Kariangau, Agus Bei, mengaku memergoki enam orang sedang membabat tanaman di tempat itu pada Rabu, 22 Mei 2013. Diperkirakan, sudah 20 ribu batang pohon yang habis dibabat dari area yang dilindungi pemkot dan masyarakat tersebut.
“Kami memergoki enam orang dengan menggunakan gergaji rantai mesin. Mereka mengaku orang suruhan untuk perumahan. Saya langsung suruh mereka berhenti,” jelas pria pencinta mangrove tersebut di Balikpapan, Kamis (23/5/2013).
Penebangan besar-besaran itu diketahui ketika dia dan warga lainnya melakukan patroli dengan perahu menyusuri area tanaman. Menurutnya, ada perubahan suasana di sana. Kawasan tersebut jauh lebih senyap karena tidak terdengar suara hewan-hewan yang biasa berkumpul di tempat itu.
“Dari sungai dilihat ke timur lebih terang dari biasanya. Keadaan juga lebih senyap karena biasanya ada saja suara burung atau satwa lain. Setelah kami datangi, benarlah, pohon-pohon sudah ditebang sedemikian luasnya,” cerita pria yang juga Ketua RT 14 Kompleks Graha Indah Kariangau itu.
“Mereka langsung menghentikan penebangan, tapi kita kan tidak bisa menumbuhkan kembali pohon yang sudah terlanjur ditebang. Itu pohon yang ditebang diperkirakan berusia 30 tahun dengan diameter 25-30 centimeter,” imbuhnya.
Keberadaan pohon mangrove diakuinya sangat rentan terhadap aksi penebangan. Tidak ada jaminan meski area itu termasuk dalam pusat mangrove atau kawasan hutan bakau yang dilindungi. Di dalamnya, hidup berbagai satwa langka seperti bekantan, biawak, buaya sungai, dan berbagai jenis burung.
“Kawasan ini bukan milik kami saja, tapi milik seluruh warga Balikpapan dan bermanfaat untuk semua. Mari kita jaga bersama,” ajaknya.
Mangrove center memiliki luas sekira 12 hektare dan langsung terhubung Sungai Somber serta kawasan Teluk Balikpapan. Selain digunakan untuk konservasi, juga kerap dijadikan lokasi wisata mangrove bagi warga dari dalam maupun luar negeri.
Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang memanfaatkan lokasi itu sebagai lokasi gatering. Di dalamnya juga terdapat pembibitan bakau yang dilakukan pemkot dengan melibatkan warga sekitar.
Sementara itu, Badan Lingkuhan Hidup (BLH) Kota Balikpapan belum dapat dikonfirmasi menyoal permasalahan tersebut. Saat dihubungi nomor telefon genggam Kepala BLH Balikpapan, Fahruddin, tidak aktif dan pesan singkat yang dikirim juga belum mendapat balasan.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.