Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ini Penjelasan Arkeolog soal Misteri Situs Gunung Padang

Ricky Susan , Jurnalis-Minggu, 30 Juni 2013 |17:41 WIB
Ini Penjelasan Arkeolog soal Misteri Situs Gunung Padang
Situs megalitikum di Cianjur (disparbud.jabarprov)
A
A
A

CIANJUR - Situs megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mulai terkuak bentuknya. Hal tersebut diketahui setelah Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) dan tim nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan pengupasan lereng sebelah timur selama sepekan terakhir.

Ketua Arkeologi TTRM, Ali Akbar, mengaku, keyakinan bentuk Gunung Padang semakin jelas dengan adanya terasering di sekelilingnya.

Kata dia, ada sekira 15 terap yang membentuk Gunung Padang, mulai dari puncak sampai bawah.

Selain itu, lanjut dia, keyakinan bahwa luas situs megalitikum Gunung Padang mencapai sekira 15 hektare semakin kuat.

Penelitian terhadap Gunung Padang pernah dilakukan pada 2012 dan diketahui bahwa luas situs hanya sekira 900 meter persegi. Namun, penelitian terbaru awal tahun ini mengindikasikan bahwa luas situs di Desa Karyamukti mencapai 10 kali lebih besar dari Candi Borobudur.

“Sebetulnya, kami sebagai ilmuwan sudah bisa melihat (luas Gunung Padang). Tapi adanya pengupasan ini lebih memberi keyakinan dan informasi yang jelas. Pengupasan ini memberikan visual yang sangat jelas kepada masyarakat terhadap bentuk dan luas Gunung Padang," jelasnya, Minggu (30/6/2013).

Selain hasil tersebut, lanjut Ali, temuan baru lainnya adalah jenis flora dan fauna yang tumbuh di terasering dan di Gunung Padang. Berdasarkan hasil riset geoekologi, pepohonan yang tumbuh bukan jenis primer. Menurut dia, sejak 1970, manusia sudah menjamah tanah di Gunung Padang.

“Kalau dilihat memang kondisi tanah di Gunung Padang lembab. Namum, hampir semua tumbuhan yang ada di Gunung Padang merupakan garapan manusia. Dari sudut geologi, laha di Gunung Padang bukan hutan," ungkapnya.

Terkait dengan struktur yang usianya lebih tua, yakni sekira 5900 SM, Ali belum bisa menjawab meski struktur tersebut telah ditemukan oleh TTRM saat melakukan ekskavasi di lereng timur pada Februari 2013.

Dia menjelaskan, saat itu batu-batu kekar tiang (columnar joint) yang menjadi bahan dasar penyusun struktur dilapisi semacam adonan yang disebut semen purba.

Kata dia, kedua tim terus mencari unsur karbon baru di lokasi yang berbeda dari lokasi penemuan karbon pertama.

“Kalau usia masih belum ada perkembangan dan masih menggunakan angka yang lalu, seperti temuan struktur batu buatan manusia yang dibangun pada sekira tahun 500 SM. Tapi kalau ditemukan karbon akan diperiksa lagi. Sejauh ini belum menemukannya karena kedalamannya masih 1,5 meter. Memang sulit menemukannya,” pungkasnya.

(Dian AF)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement