Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pasutri Warga 'Kampung Pengemis' di Kediri

Afnan Subagio , Jurnalis-Kamis, 25 Juli 2013 |22:09 WIB
Kisah Pasutri Warga 'Kampung Pengemis' di Kediri
Suasana di kampung pengemis di Kediri (Dok: Afnan Subagio/Sindo TV)
A
A
A

KEDIRI - Menjelang Hari Raya Idul Fitri hampir di setiap sudut kota dipenuhi pengemis dan pengamen. Hal yang sama terjadi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Bahkan di Kediri ada sebuah dusun yang hampir semua menjadi pengemis dan pengamen.

Dusun dimaksud bernama Buluran yang berlokasi di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kediri.

Dusun yang dihuni sekira 130 KK dan terbagi menjadi tiga RT itu tampak sepi pada siang hari. Hampir 85 persen warga di dusun ini bekerja sebagai pengemis dan pengamen sejak 1970-an. Sehingga pada siang hari, mereka keluar kampung untuk mengamen dan mengemis. Karena itu, tak heran bila dusun tersebut dijuluki ‘kampung pengemis’.

Ks, seorang warga Buluran, Kamis (25/7/2013), mengaku sudah mengamen sejak 1990-an. Sementara istrinya, En, mengemis.

Pria yang juga ketua RT itu mengaku terpaksa mengamen karena sulit mendapat pekerjaan. Jenjang pendidikannya rendah serta tidak punya modal. Karena sebagian besar pria dewasa di lingkungannya mengamen, ia pun akhirnya ikutan mencari uang dengan 'menjual suara'.

Sementara itu, En mengaku mengemis untuk membantu ekonomi keluarga. Pasutri yang sudah memiliki dua anak itu setiap pagi berangkat menaiki sepeda motor.

Di jalan mereka berpisah. En pergi ke pasar, pertokoan, dan perkampungan untuk mengemis, sedangkan suaminya mengamen di angkutan dan tempat umum lainnya.

Menurut En, di bulan puasa ini pendapatannya sebagai pengemis menurun drastis. Bila sebelum puasa tahun lalu bisa mendapatkan duit rata-rata Rp50 ribu untuk setengah hari, namun tahun ini turun menjadi Rp25 ribu hingga Rp30 ribu.

Ia melanjutkan, di awal dan pertengahan puasa memang penghasilannya tidak begitu banyak, namun menjelang Lebaran pendapatanya bisa naik hingga Rp100 ribu setiap setengah hari.

Menjadi pengemis, jelas En, bukan hal yang mudah. Selain dibutuhkan mental yang kuat juga harus sigap dari sergapan petugas Satpol PP dan polisi.

Apalagi petugas menggiatkan razia selama Ramadan karena dianggap mengganggu ketertiban umum.

En mengaku pernah terjaring razia, namun hal itu tidak membuatnya jera. Alasan kebutuhan perutlah yang membuat mereka nekat mengamen dan mengemis.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri melalui Kabag Humas Kabupaten Kediri, Edhi Purwanto, mengatakan, jumlah gelandangan dan pengemis yang tinggal di di Desa Gedangsewu sebenarnya sudah menurun. Namun, data itu berbeda dengan fakta sebagai mana terlihat di Dusun Buluran, di mana setiap RT sedikitnya terdapat 45 KK. Sedangkan setiap KK rata-rata dihuni empat sampai delapan orang.

Mengomentari itu, Edhi menjelaskan, pengemis yang biasa mangkal di beberapa lokasi di Kabupaten Kediri selama Ramadan bukan saja berasal dari dalam, melainkan luar kota.

(Anton Suhartono)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement