TUBAN - Puluhan hektare hutan jadi di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Parengan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur terbakar sejak dua hari lalu. Pemadaman berjalanan sulit, karena tiupan angin cukup kencang di musim kemarau ini.
Ada sekira 20 hektare lahan yang tebakar. Di antaranya adalah petak 16 B seluas 11 hektare, dan petak 15 D seluas sembilan hektare. Area itu berada di Dusun Beton, Desa Parangbatu, Kecamatan Parengan. Sedangkan petak 18 A seluas 10 hektare di Dusun Prataan di desa sama, masih luput dari api.
Belasan petugas perhutani yang siaga di tengah hutan, mengaku kesulitan melakukan pemadaman. Api dengan cepat merambat karena tiupan angin kencang, membuat kebakaran hutan kian meluas.
Apalagi upaya pemadaman terbilang sederhana dengan memanfaatkan alat seadaanya. Mereka menggunakan batang-batang pohon jati yang masih basah dan berdaun, untuk memadamkan api yang membakar ranting dan daun kering.
“Kami memang mengalami kesulitan untuk memadamkan api. Alatnya tidak ada, hanya pakai batang jati basah yang berdaun,” ujar Kepala KPH Parengan, Suwito di lokasi, Selasa (3/9/2013).
Untuk mengantisipasi agar kebakaran tidak semakin meluas, pihaknya menggunakan metode ilaran, yakni membuat jarak antara api dan kawasan yang terbakar dengan cara membersihkan daun-daun kering di sekitar titik api.
“Sehingga jika terjadi kebakaran yang sama, maka api dapat dengan mudah diisolir, dan tidak meluas karena telah diputus jalur penyebarannya,” paparnya.
Dia menjelaskan, kebakaran disebabkan puntung rokok menyala yang dibuang begitu saja oleh warga. Padahal dedaunan jati yang kering mudah terbakar.
Tidak hanya itu, para pemburu babi juga ikut andil dalam kebakaran tersebut, karena dengan sengaja membakar dedaunan jati kering untuk memudahkan perburuan. “Jika hutan sudah terbakar, babi-babi hutan yang awalnya bersembunyi, akan keluar. Tentu para pemburu lebih mudah mendapatkannya (babi),” pungkasnya.
(Risna Nur Rahayu)