nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gara-Gara Menulis "Jogja Ora Didol", Seniman Mural Dipidana

Heru Trijoko, Jurnalis · Kamis 10 Oktober 2013 15:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2013 10 10 510 879719 Nw0Ww6DmdJ.jpg Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

YOGYAKARTA - Seorang seniman mural asal Yogyakarta terpaksa menjalani persidangan dan dipidana karena mengkritik kinerja Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, dengan cara melakukan aksi corat-coret “Jogja Ora Didol” (Yogya Tidak Dijual) di dinding sebuah rumah kosong.

Muhammad Arif Yuwono (17), warga Kotagede divonis bersalah dalam sidang tindak pidana ringan (tipiring) di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, siang tadi. Majelis Hakim yang diketuai Susanto Isnu Wahyudi, menjatuhkan vonis Arif bersalah karena melakukan aksi corat-coret di kawasan Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta, pada Senin 7 Oktober. 

Terdakwa dianggap melanggar Peraturan Daerah Kota Yogyakarta tentang Perubahan Ketentuan Pidana dan Pengelolaan Kebersihan, sehingga dijatuhi hukuman denda senilai Rp1.000 sebagai biaya perkara. Selain itu, majelis hakim juga memutuskan apabila selama 14 hari terdakwa mengulangi perbuatannya akan dikenakan hukuman tujuh hari penjara. 

Menanggapi putusan itu, terdakwa mengaku menerima namun akan tetap melakukan aksi serupa selepas 14 hari masa hukuman percobaannya berakhir. Sebab, dia dan seniman lainnya hanya mengritisi Wali Kota Yogyakarta yang selama ini dinilai sering menjual aset lahan untuk kepentingan profit semata.

Arif mengatakan penangkapan dirinya bermula saat menebalkan mural. Saat itu tiba-tiba petugas Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta mendatangi dan menangkapnya. Dia juga menyampaikan sempat diancam akan ditembak jika tidak turun dan menghentikan aksi corat-coret “Jogja Ora Didol”.

“Sempat akan ditembak petugas jika tidak turun,” kata Arif, Kamis (10/10/2013).

Persidangan terhadap seniman mural ini mengundang perhatian banyak kalangan. Selain seniman, sejumlah anggota DPRD Kota Yogyakarta juga mengikuti jalannya sidang. Kasus tersebut dianggap unik lantaran kebebasan berekspresi seniman dalam mengkritik Pemerintah Kota Yogyakarta mendapat respons represif yakni pemberangusan karya seni melalui ranah hukum. 

(tbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini