CANBERRA - Penyadapan yang dilakukan oleh Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memicu kemarahan besar dari pemerintah Indonesia terutama SBY sendiri. Pengamat dari Australia menilai kemarahan itu adalah bentuk bantahan bahwa SBY pro-Barat.
Menurut pengamat militer Australia dari Australian National University (ANU) Michael Wesley, ada maksud di balik kemarahan Presiden SBY dan juga Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.
"Baik Yudhoyono (SBY) dan menteri luar negeri amat sensitif terhadap kritikan bahwa mereka dianggap terlalu pro-barat. Baik itu dalam kebijakan ataupun polahnya," ujar Wesley, seperti dikutip Guardian, Sabtu (23/11/2013).
"Yudhoyono dan Natalegawa merasa sudah menekan tombol kemarahan yang pas untuk rakyatnya," jelasnya.
Perlu dipertanyakan mengapa mereka tidak mengeksploitasi kemarahan di media, ketika dokumen pembocor Amerika Serikat (AS) Edward Snowden terkuat pertama kali. Terlepas dari semuanya, kemarahan SBY saat ini bisa menyetir sikap nasionalis yang sebelumnya sempat mereda ketika penguakan penyadapan pertama kali merebak beberapa bulan lalu.
Masalah justru kini hinggap di Perdana Menteri Australia Tony Abbott yang dikabarkan tengah mempersiapkan diri bila ada bocoran mengenai penyadapan terhadap negara lain selain Indonesia. Dokumen penyadapan itu juga berasal dari bocoran Snowden.
Materi penyadapan ini juga menyebutkan tentang Indonesia dan negara Asia lainnya. Materi ini dipastikan bisa membuat Australia tambah malu.
(Fajar Nugraha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.