nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspada, Konflik Sosial Sudah Telan 203 Nyawa

Muhammad Saifullah , Jurnalis · Kamis 02 Januari 2014 12:26 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2014 01 02 339 920558 fCQvw9LciX.jpg
JAKARTA - Lampu tanda bahaya akibat konflik sosial di Indonesia sudah menyala. Tilik saja data pada tahun 2013, sebanyak 203 nyawa melayang akibat perseteruan sesama anak bangsa.
 
Tak menutup kemungkinan pada tahun politik, alarm tanda bahaya pecahnya konflik sosial akan meraung lebih keras bila tak ada antisipasi nyata dari pemerintah. “Jika kondisi ini tidak diantisipasi, diperkirakan konflik sosial akan makin marak di tahun politik 2014,” ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada Okezone di Jakarta, Kamis (2/1/2014).
 
Konflik sosial pada 2013 memang patut dicermati. Sebab, trennya mengalami kenaikan signifikan yaitu 23,7 persen dibandingkan 2012. Sepanjang 2013 terjadi 153 konflik sosial di Indonesia, baik berupa tawuran, bentrokan massa maupun kerusuhan sosial. Akibatnya, 203 orang tewas, 361 luka, 483 rumah dirusak dan 173 bangunan lainnya dibakar. Padahal, pada 2012 hanya ada 154 orang tewas  dan 217 luka. Dari jumlah itu 1 TNI tewas, 2 Brimob tewas, 6 TNI luka, dan 6 polisi luka.
 
IPW mencatat, konflik terakhir terjadi pada 30 Desember 2013 di Kelurahan Sanggeng, Distrik Manokwari Barat, Papua Barat. Konflik ini membuat seorang bocah tewas dan enam bangunan ludes terbakar, di antaranya gedung serba guna Anggi Room.
 
Neta memaparkan, korban konflik sosial pada 2013 tidak hanya warga sipil, prajurit TNI dan Polri juga jadi korban. Anggota TNI yang tewas sebanyak 10 orang, sementara polisi 4 orang, sisanya 188 orang adalah warga sipil. Dari 361 korban luka-luka, 42 polisi dan 7 TNI. Konflik sosial pada 2013 juga mengakibatkan 15 mobil dibakar dan 11 dirusak. Kemudian sebanyak 144 unit sepeda motor dibakar dan 49 dirusak massa.
 
Kantor polisi pun jadi korban, di antaranya Polres Ogan Komering Ulu, Sumsel. Begitu juga lembaga pemasyarakatan, seperti Lapas Tanjung Gusta dan Lapas Palopo. Ironisnya, Polri hanya dapat berkata bahwa situasi terkendali setelah adanya peristiwa kerusuhan yang memakan korban jiwa dan harta benda masyarakat.
 
“Banyaknya konflik sosial tersebut menunjukkan bahwa intelijen Polri sangat lemah. Fungsi deteksi dini seakan tidak berfungsi. Pada 2014, pemerintah SBY perlu membenahi semua ini. Jika tidak, bukan mustahil Pemilu dan Pilpres 2014 akan diwarnai berbagai konflik dan kerusuhan sosial yang menewaskan banyak orang,” Neta mengingatkan.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini