Image

Validitas Data Nielsen Dipertanyakan

Rani Hardjanti, Jurnalis · Minggu 16 Maret 2014, 18:21 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 03 16 373 955968 bnPvUdghTd.jpg Ilustrasi : ti.itb.ac.id.

JAKARTA - Sebuah penelitian ilmiah seyogyanya dilakukan dengan nilai moralitas, objektif, terukur, transparan baik dari metode yang digunakan, instrumen penelitian, hingga respondennya. Namun, apa yang terjadi bila langkah-langkah penelitian yang dipublikasikan tidak jelas?

 

Hal ini dikritisi oleh dosen komunikasi dari Universitas Pelita Harapan (UPH) dan Universitas Mercu Buana (UMB) Emrus Sihombing. Salah satu yang menjadi sorotan publik belakangan ini adalah lembaga survei Nielsen. Lembaga tersebut memublikasikan data, namun tidak dilengkapi dengan transparansi mengenai detail penelitiannya.

"Kalau ada perusahaan meminta Nielsen melakukan riset, ya silakan saja. Itu bisa jadi untuk kebutuhan perusahaan tersebut yang sifatnya tertutup. Tetapi, ketika AC Nielsen memublikasi sebuah pemeringkatan, katakanlah produk A atau rating a, b, c, d, itu harus diikuti dengan kejelasan penelitian. Sehingga kita bisa tahu, apakah data tersebut direkayasa untuk kepentingan tertentu?" ujar Emrus kepada Okezone, Minggu (16/3/2014).

Menurutnya, Nielsen selaku lembaga riset seharusnya memiliki metoda penelitian yang jelas untuk menguji apakah data itu palsu atau asli. Sebuah data, lanjutnya, juga tidak bisa disebut serta merta asli atau palsu tanpa ada kejelasan penelitian.

"Misalkan, ini lho kuesioner kita, ini lho responden kita sehingga bisa membuktikan data yang dipublikasikan tidak palsu, jadi tidak ada rahasia. Sepanjang metode yang dilakukan itu baik, mereka bisa. Tapi mereka mau enggak menunjukkan itu?" tanya Emrus yang meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia. 

Hal ini, lanjut dia sangat penting. Alasannya, dari instrumen penelitian bisa terlihat objektivitas sebuah penilitian. Dia mencotohkan, pertanyaan sebuah kuesioner bisa diarahkan terhadap suatu kepentingan.

Dia pun mengingatkan agar publik berhati-hati. Sebab, peneliti juga manusia. Terbuka kemungkinan bisa sebuah penelitian memiliki agenda tersembunyi.  Menurutnya validitas penelitian bisa dibuktikan angka realibilitas di atas 80 persen.

"Nah, kalau memang tidak bisa dibuktikan, ini patut dicurigai masyarakat bahwa data itu direkayasa," ujar dia.

Isu validitas hasil penelitian Nielsen pun pernah ramai di salah satu forum diskusi online. Ada tujuh kejanggalan dari data yang dipublikasikan Nielsen, antara lain kualitas SDM peneliti, pemilihan demografis responden, pemilihan kelas responden, honor responden, dan integritas peneliti.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini