Share

Wisata Gaib Makam Jeruk Purut

Nina Suartika, Okezone · Sabtu 29 Maret 2014 06:18 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 29 500 962461 98zeV7h01r.jpg

Makam Jeruk Purut merupakan salah satu kuburan yang terkenal angker yang ada di Kecamatan Cilandak, Kemang, Jakarta Selatan. Namun, keangkerannya justru membuat sejumlah masyarakat tertarik untuk berwisata ke makam Jeruk Purut. Penduduk setempat pun memberikan nama bagi para pengunjung tersebut dengan Komunitas Uji Nyali Jeruk Purut.

 

Makam Jeruk Purut siang itu ramai oleh aktivitas sejumlah warganya. Masing – masing dari mereka ada yang sedang menyapu makam dan membersihkan makam, ada yang menjual kembang dan air mawarnya, dan ada juga yang sedang mengaji di sebuah kuburan milik sanak keluarganya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

 

Agustine sedang sibuk membersihkan makam bersama sejumlah ibu – ibu. Mereka merupakan warga asli yang tinggal di sekitar makam. Setiap harinya mereka bekerja membersihkan karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa mereka lakukan.

 

“Kalau bersih – bersih makam ini memang setiap hari saya lakukan. Soalnya kadang – kadang ada keluarga yang meminta saya untuk membersihkan dan saya diberikan uang untuk mengurus makam tersebut. Jadi daripada saya bengong di rumah lebih baik saya bekerja di sini,” kata wanita 42 tahun ini.

 

Agustine sudah tinggal di dekat makam Jeruk Purut selama kurang lebih 32 tahun. Tempat tinggalnya itu merupakan warisan dari orang tuanya. Sebelumnya, dia tinggal di daerah Mampang yang jaraknya tidak jauh dari makam.

 

“Tanah di rumah saya itu pemberian dari orang tua saya. Karena waktu itu setelah saya kawin orang saya bilang saya disuruh menempatkan tanah yang ada di Jeruk Purut. Awalnya sih saudara – saudara saya bilang memangnya lo nggak takut tinggal di kuburan, terus saya bilang apa yang perlu ditakutkan, saya kan manusia, kita hidup masing – masing saja,” kata Agustine.

 

Akhirnya setelah menikah, dia bersama suaminya yang bernama Hasan pun menempati rumah yang berukuran sekitar 4x5 meter tersebut. Letak rumahnya memang tidak jauh, hanya sekitar 50 meter dari makam.

 

“Pertama kali tinggal di sini memang agak kaget, soalnya setiap malam di sini ramai. Saya pikir memang sedang ada acara di luar tetapi saya melihat tidak ada, tetapi kadang – kadang ada suara orang tertawa, orang menangis, dan tidak jarang juga ada yang melempar rumah saya dengan batu. Tetapi kalau dilihat tidak ada orangnya,” kata Agustine.

 

Namun, dia sendiri menyadari bahwa dirinya memang tinggal di dekat pemakaman. Akhirnya rasa kaget dan takutnya itu pun dengan sendirinya hilang.

“Kalau di sini itu, kalau kita merasa takut memang terkadang kita suka diperlihatkan. Karena setan – setan di sini memang paling suka sama orang yang ketakutan, tetapi kalau tidak kita tidak ada ketemu,” kata Agustine.

 

Dia mengakui, terkadang memang setan – setan yang ada di makam selalu jahil. Hal tersebut yang membuat dirinya selalu diperlihatkan oleh setan.

“Memang kalau itu setan lagi jahil ibu sering diperlihatkan. Awalnya sih kaget soalnya bentuknya aneh – aneh, ada yang mukanya rata, ada juga yang seram mukanya. Tetapi kalau ibu sih paling sering dijahilinnya dengan dilempar – lempar pakai batu rumahnya ibu,” kata Agustine.

                                                                                                *****

Menurut Agustine, cerita – cerita angkernya makam di Jerut Purut itulah yang membuat sejumlah warga di Jakarta berbondong – bondong datang ke makam. Banyak dari mereka ada yang sengaja datang untuk berwisata gaib atau sekedar mencoba uji nyali di makam tersebut.

 

“Iya di sini itu ada komunitas yang kita namakan komunitas uji nyali makam Jeruk Purut. Komunitas itu sih sebenarnya warga yang buat soalnya orang – orang yang datang ke sini tidak berkelompok, kebanyakan datang sendiri – sendiri, katanya ingin mencoba melakukan uji nyali di makam ini,” kata Agustine.

 

Agustine mengatakan, setiap hari pasti ada saja orang yang datang ke makam. Rata – rata dari mereka selalu datang pada pukul 11 malam dan baru berakhir pukul 4 pagi. “Biasanya sih yang paling ramai itu kalau hari Jumat malam atau malam Minggu. Soalnya yang datang itu kebanyakan anak – anak sekolah. Pernah ibu tanya ngapain datang malam – malam ke sini untuk uji nyali, soalnya kalau mereka diperlihatkan juga mereka ketakutan. Tetapi kata mereka, lebih baik datang ke sini daripada mereka balap – balapan liar yang akhirnya bikin mereka celaka,” kata Agustine.

 

Alasan tersebut yang membuat Agustine dan warga sekitar akhirnya memberikan nama untuk kegiatan yang dilakukan pada malam hari itu dengan nama Komunitas Uji Nyali Jeruk Purut. Karena warga sekitarlah yang mengelolanya. Mereka yang menunjukan tempat – tempat mana saja yang bisa dikunjungi untuk melakukan uji nyali dan mereka juga yang menyediakan makanan.

 

“Biasanya kalau malam warga di sini masih ada yang dagang, kayak saya kalau malam suka dagang makanan soalnya memang banyak yang datang ke sini. Jadi kalau malam di sini bukannya serem malam jadi ramai,” kata Agustine.

                                                                                                *****

Sementara itu, menurut Idra yang merupakan penjaga makam Jeruk Purut, pihaknya juga ikut mengelola komunitas tersebut. Dia lebih sering ditugaskan mendampingi warga yang datang untuk berwisata gaib. Menurutnya, di makam ini ada beberapa tempat yang bisa dilakukan sebagai tempat uji nyali.

 

Misalnya saja makam keramat. Di makam tersebut biasanya sering ada penampakan yang terkadang suka diperlihatkan. Namun, penghuni di makam itu lebih baik dibandingkan di tempat lain.

 

“Jadi biasanya kalau ada yang ingin uji nyali saya suka tunjukin tempat yang menurut saya baik untuk dilakukan uji nyali. Soalnya setan di makam keramat itu baik, dia tidak mengganggu dan tidak membuat orang menjadi kesurupan,” kata Indra.

 

Tempat lain yang disebut angker adalah pohon benda. Pohon itu letaknya bersebrangan dengan makam keramat. Konon di pohon tersebut suka banyak setan – setan yang bergentangan dan terkadang ada juga setan – setan yang sering mengganggu warga yang melakukan uji nyali.

 

Selain itu ada juga pohon kembar. Letak pohon kembar berada di ujung makam. Pohon kembar merupakan sebutan bagi dua pohon yang berdampingan. Penduduk sekitar tidak ada yang berani menebang karena terkadang aka nada hal yang tidak menyenangkan.

“Di pohon kembar itu setannya biasanya paling galak. Karena terkadang mereka suka membuat peserta uji nyali jadi kesurupan. Di pohon itu ada penghuni kuntilanak lelaki sama anak kecilnya,” kata Indra.

 

Tempat terakhir yang dianggap angker adalah sumur. Sumur itu berada di paling belakang makam. Sumur itu ditutupi oleh banyak pohon – pohon besar yang ada di makam. Namun, Indra jarang menyarankan warga untuk melakukan uji nyali di sumur seperti itu. Karena selain setan yang ada di sana jahil dan jalak, di sumur itu terkadang suka ada ular kobra hitam.

 

“Kalau warga di sini tidak ada yang setuju uji nyali dilakukan di sumur soalnya mereka bukan khawatir dengan setan yang ada di sana, warga lebi khawatir masyarakat yang melakukan uji nyali kepatok ulat. Soalnya katanya di sumur itu suka ada ularnya dan ular di sini yang paling terkenal adalah ular kobra hitam,” kata Indra.

 

Namun, lanjut Indra, terkadang ada juga tempat – tempat lain yang dijadikan sebagai lokasi melakukan uji nyali. Meski begitu, dia masih tetap menyarankan agar masyarakat bisa melakukan uji nyali di makam keramat yang menjadi makam seorang syekh.

 

“Soalnya kadang – kadang tergantung penghuninya. Kalau dia merasa terganggu, dia bisa saja memasuki tubuh si peserta dan membuatnya menjadi kusurupan. Jadi kalau di sini kita juga harus jaga sikap,” kata Indra.

 

Indra mengatakan, hal yang paling diawasi saat ingin melakukan uji nyali adalah kepada seorang perempuan. Menurutnya, perempuan merupakan peserta yang paling banyak pantangannya.

 

“Biasanya kalau ada perempuan yang ingin uji nyali kami tanya dulu apakah dia sedang datang bulan atau tidak, karena kadang – kadang ada yang suka bandel. Dia bilang tidak datang bulan padahal dia sedang datang bulan dan akhirnya dia kesurupan. Kan kalau kata orang setan itu paling senang sama yang namanya bau darah,” kata Indra.

 

Tidak hanya itu, wanita hamil juga tidak diperbolehkan melakukan uji nyali. Karena perempuan hamil sangat rentan dengan serangan – serangan setan. “Kalau perempuan hamil itu paling dilarang di sini. Soalnya dia sedang hamil dan biasanya kalau hamil itu yang paling sering diganggu apalagi sama kuntilanak, jadi kita paling melarang orang hamil datang ke kuburan,” kata Indra.

                                                                                                ****

Sementara itu, menurut Usman, salah satu warga sekitar, ada pengalaman yang paling menyeramkan pada saat sedang melakukan uji nyali. Pada saat itu, baru beberapa menit melakukan uji nyali, peserta langsung kesurupan.

 

“Kalau kata setannya sih dia (yang melakukan uji nyali) mengganggu penghuni sini. Padahal itu bukan salah satu tempat yang menjadi rekomendasi warga sini untuk melakukan uji nyali. Tetapi mungkin karena memang setannya tidak suka makanya dia bisa kesurupan,” kata Usman.

 

Usman yang sejak kecil tinggal di sekitar makam Jeruk Purut mengatakan, pada zaman dulu ada juga warga yang melakukan uji nyali. Namun, kebanyakan dari mereka datang ke makam untuk mencari wangsit.

 

“Ada yang datang ke sini untuk uji nyali tetapi untuk meminta nomor (judi). Tetapi ada juga yang datang untuk meminta wangsit. Tapi itu dulu kalau sekarang mah lebih modern, orang – orang yan datang itu lebih sering untuk mengetes keberanian mereka bukan untuk uji nyali nyari wangsit,” kata Usman.

 

Usman mengaku senang dengan keberadaan komunitas tersebut. Karena selain membuat suasana makam tidak terlihat seram. Komunitas uji nyali juga membuat pendapatan penduduk menjadi bertambah.

 

“Di sini warganya jadi lebih ramai dan pendapatannya juga bertambah. Karena kalau siang mereka bersih – bersih makam dan kalau malam ada yang jualan makanan dan minuman untuk masyarakat yang ingin melakukna tes uji nyali,” kata Usman.

                                                                                                                *****

Jenni, pelajar sekolah menengah atas (SMA) ini juga pernah mengikuti uji nyali di makam tersebut. Dia yang merupakan warga dari Cawang nekad datang bersama teman – temannya ke makam. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya berani dan ingin melihat sosok setan.

 

Namun, kata Jenni, pengalaman melakukan uji nyali merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Awalnya, dia hanya ingin mengetes keberaniannya. Dia mengaku belum pernah melihat setan dan dia tidak percaya dengan keberadaan setan.

Dia pun di tempatkan di makam keramat tempat melakukan uji nyali. Namun, baru beberapa menit dia berada di dekat makam tersebut, dia melihat sosok kakek – kakek berbaju putih. Selain itu, dia juga mencium bau – bau harum.

 

“Waktu itu gue ngeliat kakek – kakek itu pakai baju putih. Kakek itu seperti ingin mengatakan sesuatu kalau gue nggak boleh ada di situ, karena keberadaan gue mengganggu. Tapi gue masih tetap bertahan. Eh nggak lama setelah kakek itu hilangg, gue ngedengar suara orang ketawa kayaknya dekat banget sama gue. Dari situ gue nyerah, gue ngga berani lagi,” kata Jenni.

 

Meski begitu, Jenni mengatakan, pengalaman melakukan uji nyali merupakan salah satu pengalaman yang menyenangkan. Dia pun terkadang sering mengajak teman – temannya untuk melakukan uji nyali.

 

“Kadang – kadang memang sering datang kalau malam, sekedar melihat dan kadang – kadang ada juga teman yang ingin uji nyali. Menyenangkan dan menakutkan sih,” katanya. 

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini