Puncak Gunung Lawu Saksi Bisu Lahirnya Sang Saka Merah Putih

Bramantyo, Okezone · Jum'at 04 April 2014 00:02 WIB
https: img.okezone.com content 2014 04 03 511 965080 O7KzwmlljU.jpg Gunung Lawu (Foto: Bramantyo/Okezone)

KARANGANYAR - Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Magetan,Jawa Timur, menyimpan sejuta misteri. Tak heran bila banyak kisah misteri muncul kepermukaan.

Termasuk lahirnya bendera merah putih yang hingga saat ini dipakai sebagai bendera kebangsaan Indonesia. Konon, tercetus pertama kali di puncak Gunung yang dahulunya bernama Wukir Mahendra ini.

Gunung Lawu berdiri kokoh di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Masyarakat Jawa sangat percaya mitos bahwa puncak Lawu dahulu merupakan kerajaan pertama berdiri di pulau Jawa dan dipercaya memiliki dunia gaib yang misterius.

Tak heran, hingga saat ini, Gunung Lawu masih dianggap sebagai gunung keramat yang memiliki banyak keistimewaan. Bahkan karena keistimewaan yang dimiliki, gunung yang memiliki arti gunung pertama kali berdiri di pulau Jawa ini masih digunakan dan menjadi tempat lelaku spiritual.

Salah satu pengamat dan ahli spiritual yang sangat mengerti seluk beluk Gunung Lawu, Polet, menyebutkan bahwa Lawu adalah pusat budaya dan kegiatan spiritual Jawa. Bahkan bila ditarik secara garis lurus, Gunung Lawu sejajar tegak lulus tepat di Pura Mangkunegara.

Bukan berada tepat di Keraton Kasunanan Surakarta. Seperti halnya Keraton Ngayojokarto yang sejajar tepat dengan Gunung Merapi. Selain itu, Gunung Lawu ternyata berdiri persis di tengah perempatan empat penjuru mata angin.

"Lawu itu letaknya pas di perempatan, dan jika di tarik garis lurus akan bertemu tepat di Pura Mangkunegaran Solo. Bukan Keraton Kasunanan. Seperti halnya Keraton Ngayojokarto tegak lulus tepat dengan Gunung Merapi," jelasnya kepada Okezone, di Karanganyar, Jawa Tengah belum lama ini.

Sudah sejak jaman dahulu Lawu menjadi tempat untuk laku spiritual para tokoh dan negarawan. Sejak Jaman Kraton sampai saat ini. Puncak Hargo Dumilah merupakan tempat sakral yang sering digunakan untuk semedi, meditasi atau mengolah kebathinan.

Karena Gunung Lawu memiliki sejarah dan mistik tinggi. Dan dipercaya sejak turun temurun digunakan para raja dan pemipin sebagai tempat menyepi, mencari wangsit atau petunjuk dari Tuhan YME.

"Tidak sembarang orang mampu mendaki Gunung Lawu. Semua harus berawal dari niat yang baik. Karena di sana banyak melewati tempat keramat. Banyak pantangan atau larangan yang harus diikuti. Hati, pikiran, ucapanĀ  dan perbuatan harus bersih. Jadi jika niatnya sudah tidak benar jangan harap bisa mencapai puncak Lawu," jelasnya.

Sudah menjadi rahasia umum hampir semua petinggi negara sering menyepi dengan mendaki puncak Lawu. Sejak jaman era Bung Karno, presiden pertama Indoneisa ini pun sudah sering melakukan tetirah atau menyepi di Lawu.

Begitu pula dengan Soeharto, sepanjang hidupnya kecintaan terhadap Gunung Lawu tak perlu diragukan. Terlahir sebagai orang Jawa yang sangat menjunjung tinggi nilai budaya jawa. Tak aneh jika kehidupan Suharto selalu dikaitkan dengan hal mistis.

Dikenal sebagai orang yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi budaya leluhurnya. Soeharto sering melakukan lelaku tirakat di puncak Lawu. Dengan bersemedi atau bertapa di tempat keramat di salah satu pusat kekuatan misti tanah Jawa. Gunung Lawu jadi tempat favorit Soeharto.

"Bahkan sampai menutup mata Lawu adalah tempat yang sangat di sukai Pak Harto. Terbukti beliau lebih memilih untuk di makamkan di lereng sebelah barat kaki gunung Lawu," jelasnya.

Menurut Polet, tidak hanya dua Presiden saja yang begitu suka dengan Gunung Lawu, almarhum Presiden ke IV, Abdurahman Wahid atau Gus Dur pun jatuh cinta dengan Gunung Lawu. Bahkan Gus Dur ternyata sudah berulang kali pernah mendaki hingga puncak Lawu.

"Tidak banyak yang tahu jika Gus Dur juga pernah naik ke puncak Lawu. Tapi memang itu faktanya. Beliau sangat penasaran seperti apa Gunung Lawu. Begitu merasakan sekali naik menjadi keterusan," terang Polet.

Menurut kesaksian Polet, Gus Dur naik ke puncak Gunung Lawu tidak melalui jalur umum seperti Cemoro Sewu Magetan, ataupun Cemoro Kandang di Karanganyar. Gus Dur ke puncak bukan untuk melakukan ritual atau bertapa. Namun sekedar mencari inspirasi untuk menyatu dengan alam.

"Gus Dur naik ke puncak Lawu melewati jalur khusus. Yakni melewati Blumbang, Tawangmangu, Karanganyar. Dari jalur itu, langsung menuju pintu masuk Pringgondani," kata dia.

"Kalau naik ke puncak Gus Dur ditandu. Bahkan kalau mau melihat tandu yang biasa di gunakan Gus Dur, hingga saat ini masih tersimpan di pintu masuk Pringgondani. Karena Gus Dur sering naik lewat jalur ini makanya jalannya di buat block, biar gampang," terang pria berambut panjang ini.

Bahkan, menurut salah satu sumber yang enggan disebut namanya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga sering mendaki Gunung Lawu untuk menyepi. Terakhir, SBY naik ke puncak Lawu sekira akhir Januari 2013 lalu.

"Pada sekitar akhir Januari lalu, SBY juga sempat mendaki Gunung. Mungkin tidak banyak yang tahu. Jika ternyata SBY juga sering mendaki puncak Lawu," terangnya.

Tak heran, saat Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam perbincangan dengan Okezone beberapa waktu lalu mengaku bila dirinya berulang kali diajak SBY untuk naik ke puncak Lawu.

"Terus terang, Pak Presiden berulang-ulang kali mengajak saya untuk naik ke puncak Gunung Lawu, tapi sampai saat ini saya belum bisa memenuhinya," kata Hatta Rajasa saat kunjungan kerjanya ke Desa Pereng, Mojogedang, Karanganyar, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Hatta mengakui bila Presiden SBY selalu mengatakan bahwa Gunung Lawu merupakan gunung tertua di Pulau Jawa. Gunung Lawu bisa dikatakan sebagai pakunya Pulau Jawa.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini