Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Seluk Beluk Profesi Jurnalis Wanita

Margaret Puspitarini , Jurnalis-Selasa, 29 April 2014 |17:23 WIB
Seluk Beluk Profesi Jurnalis Wanita
Jurnalis wanita berbagi kisah di @america. (Foto: Margaret Puspitarini/Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Emansipasi wanita telah merambah ke berbagai bidang pekerjaan. Tidak terkecuali pada bidang jurnalistik. Saat ini, sudah semakin banyak wanita yang memilih lahan jurnalistik sebagai profesi, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia.

Oleh karena itu, Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat menggelar diskusi bertajuk Making Names for Themselves: Woman in Journalism. Kegiatan yang menghadirkan empat jurnalis wanita itu mengupas seluk beluk perjalanan karier termasuk tantangan yang mereka hadapi selama menjadi jurnalis.

Keempat pembicara tersebut ialah News Anchor Metro TV Andini Effendi, Deputy Managing Editor Koran Sindo Hanna Fauzie, Managing Editor Tempo Media Group Bina Bektiati, dan Indonesia Correspondent for the Strait Times Zubaidah Nazeer.

Dalam sambutannya, Counselor of Public Diplomasi Kedubes AS Marry Ellen Countryman mengungkap, kebebasan pers menjadi sebuah kunci penting dalam negara demokrasi. Karena, lanjutnya, negara demokrasi harus mendengarkan suara rakyat melalui pemberitaan di media massa.

"Maka, saya ingin berterimakasih kepada pers atas peran mereka dalam menyuarakan pendapat rakyat. Walaupun kadang, pers menjadi ancaman bagi mereka menentang kebebasan pers itu. Apalagi di zona konflik. Jadi tugas negara dan seluruh masyarakat untuk melindungi jurnalis di daerah konflik itu," tutur Marry, di @america, Pacific Place, Jakarta Selatan, Selasa (29/4/2014).

Seiring berjalannya waktu, pers terus berkembang pesat. Namun, kata Marry, perkembangan tersebut juga diikuti dengan berbagai tantangan, serta standar dan kompetensi jurnalistik yang harus ditingkatkan oleh para jurnalis.

Fakta lain yang juga menarik ialah pertumbuhan jurnalis wanita. Dia menyebut, dalam satu dekade terakhir, banyak jurnalis wanita bermunculan dan mengambil peran penting dalam pemberitaan di media massa yang tidak kalah dengan pria.

"Muncul Atika Schubert dari CNN melaporkan tsunami di Aceh pada 2004. Kemudian ada fotografer wanita asal Jerman Anja Niedringhaus yang tewas tertembak di Kabul baru-baru ini, serta ada jurnalis asal Kanada yang terluka parah juga di daerah yang sama," ungkapnya.

Meski jumlah jurnalis wanita semakin banyak, Marry menyayangkan jika hanya segelintir dari mereka yang menduduki posisi puncak di tataran media massa. Maka, dia pun berpesan agar seluruh peserta yang hadir dapat belajar dari pengalaman berharga yang dibagikan oleh para narasumber.

"Jumlah jurnalis wanita dalam jabatan yang lebih tinggi hanya sedikit. Hanya sekira 20-30 persen. Sekarang saya memang seorang diplomat, tapi 25 tahun yang lalu saya adalah jurnalis. Saya harap, para pelajar dan mahasiswa yang hadir dapat merasa terinspirasi atas diskusi ini," tutup Marry.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement