Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tradisi Ruwah di Tengah Perkampungan Hindu

Bramantyo , Jurnalis-Kamis, 19 Juni 2014 |15:00 WIB
Tradisi Ruwah di Tengah Perkampungan Hindu
Candi Cetha yang berada di Desa Cetha (Foto: Bramantyo/okezone)
A
A
A

SOLO - Tradisi bulan Ruwah bagi masyarakat Jawa masih sangat kental. Bulan ruwah dalam tradisi Jawa juga sangat dipercaya bila roh para leluhur yang telah meninggal dunia banyak pulang ke rumah.

Tak heran dalam istilah Jawa, bulan ruwah bisa diartikan "meruhi arwah". Bulan ruwah juga di artikan bulannya arwah.

Sehingga setiap bulan Ruwah banyak dimanfaatkan masyarakat dengan nyekar ke makam leluhur  untuk memohonkan ampunan terhadap dosa dan kesalahan selama para leluhurnya masih hidup di dunia.

Budiarto, salah satu warga Ngargoyoso yang masih menjunjung budaya Kejawen, menjelaskan, dalam melaksanakan acara megengan juga disajikan kue ruwahan, berupa kolak apem dan ketan.

Ditambah dengan sesaji minuman, misalnya teh atau kopi dan makanan, kinangan, dan rokok, yang dulu menjadi kesukaan para leluhur.

"Sesajen dalam rangkaian kejawen itu sebagai pelengkap untuk memohon doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa," terang Budiarto saat ditemui di Kediamannya di Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah.

Selain itu, Ruwah (kalender Jawa), menjadi tradisi masyarakat untuk Nyadran. Tradisi ini berasal dari Hindu kuno sebelum masuk agama Islam yakni Upacara Suraddha. Dahulu upacara Suraddha sering dilakukan umat Hindu di pulau Jawa untuk mengenang arwah seseorang yang meninggal.

Di Desa Cetha, Ngargoyoso, pada hari Jumat minggu pertama setiap memasuki bulan Ruwah atau Sya'ban, diselenggarakan kenduri di makam leluhur. Meskipun sebagian warga di Desa Cetho masih memeluk agama Hindu dengan ditandai adannya Candi Cetho, namun kerukunan beragama di Desa ini tetap terjaga.

Tradisi nyadran di Desa Cetha yang terletak di lereng Gunung Lawu sekira 30 Km arah timur Kota Solo, diikuti oleh seluruh masyarakat desa.

Setiap keluarga datang membawa sajian nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya ke makam leluhur desa yang telah dibersihkan.  Menjelang tengah hari, ulama desa yang disebut biasa disebut modin akan memimpin doa.

"Setelah didoakan, dilakukan makan bersama dengan cara saling menukar nasinya dengan warga lainnya, baik pemeluk Hindu maupun Islam bersama-sama dengan damai," pungkasnya.

(Kemas Irawan Nurrachman)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement