Share

Fenomena Google sebagai "Ahli Tafsir"

Senin 01 September 2014 08:06 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 31 367 1032324 FWBFolHrIK.jpg Foto.dok.Asriatun

Ada yang mengelitik ketika mendengar kalimat google sebagai “ahli tafsir”. Realitas tentang semakin mudahnya memperoleh informasi secara instan, murah, dan efisien. Penggunaan internet seperti google menjadi semacam candu.

Kemalasan Berfikir

Memperoleh informasi secara instan menimbulkan kemalasan berfikir. Kita cenderung  menjawab persoalan dengan bertanya pada “mbah google”. Google seoalah menjadi “juru selamat” ketika sekelumit tugas dilimpahkan dosen kepada mahasiswa. Tidak jarang, para pencari informasi mutlak melakukan copy paste.

Mencari bahan bacaan sebagi modal membuat karya tulis dengan googling di internet tentu hal benar. Permasalahan justru timbul, ketika referensi terhadap bacaan tersebut mutlak diambil dan dijadikan sebagai dasar pemikiran kita. Originalitas tentu hal yang patut dijunjung tinggi. Ia merupakan hak kekayaan intelektual yang tidak boleh sembarangan diplagiasi.

Mungkin sudah lazim kita mendapati sumber referensi yang terdapat di google salah baik dalam segi pengetikan, nama pengarang, atau bahkan judul buku. Keaslian tulisan juga harus dipertanyakan.

Karya tulis ilmiah merupakan hak kekayaan intelektual seperti jurnal ilmiah, riset bidang, skripsi, tesis, dan disertasi yang harusnya dijadikan bahan rujukan dengan mencantumkan nama pegarangnya. Dengan begitu, kita telah ikut menghargai suatu karya orang lain.

    

Perkembangan teknologi terus melaju. Namun hanya sebagian dari kita yang ikut melaju dan memegang kemudi. Sementara yang lain hanyut terseret arusnya. Sulit memang ketika kita menyerahkan kemudi pada mahasiswa saat ini. Bukan karena mereka tidak mampu dalam mengatur kemudi atau sulitnya menetukan arah mata angin. Namun mereka enggan melakukan hal tersebut.

    

Inilah yang disebut sebagi suatu kemalasan. Bukan hanya kemalasan berbuat tetapi juga kemalasan berfikir. Tidak jarang kita dapati pernyataan dari mereka yang mengaku sebagai mahasiswa karena dipaksa orang tua kuliah atau sekedar dapat jajan ketika mereka kuliah. Fakta inilah, kemudian secara gamblang menjelaskan mengapa dari jutaan mahasiswa Indonesia hanya sedikit yang mampu menciptakan inovasi.

    

Semacam ada kelangkaan seperti halnya BBM. Kita tahu persis, Indonesia kaya akan minyak dan gas alam. Namun tetap saja sering terjadi kelangkaan BBM. Kelangkaan ini disebabkan karena BBM diekspoitasi oleh pihak yang berkepentingan. Sama halnya mahasiswa hari ini, yang kuantitasnya meningkat namun kualitasnya menurun. Bahkan tidak jarang mereka disetir oleh kelompok kepentingan tertentu.

Destruktif atau konstruktif?

Kasus sederhana misal, bagaimana mahasiswa hari ini melakukan demonstrasi di tingkat kampus. Melakukan demo atas kebijakan rektor yang tidak tepat. Mahasiswa baik dari BEM atau organisai kampus lainya bergerak menuntut penarikan kebijakan. Namun, dengan otoritas yang dimiliki oleh oknum tertentu, akhirnya kebijakan tersebut diterima. Mahasiswa hari ini begitu mudah diberi iming-imingan.

Ada banyak cela bahkan di tingkat organisasi terendah seperti dunia kampus. Mahasiswa hari ini sangat lihai dalam usaha menjatuhkan (destruktif) suatu rezim, namun mereka kemudian gagal dalam menawarkan solusi yang membangun (Konstruktif). Lihat bagaimana Orde Lama runtuh karena mahasiswa, kemudian Orde Baru juga runtuh dan Reformasi diraih melalui mahasiswa.

Namun mari kita lihat, apa yang di lakukan mahasiswa ketika rezim Orde lama, Orde baru runtu dan era Reformasi muncul ? pertanyaan ini tentu harus kita jawab bersama sebagai mahasiswa.

Apresiasi yang luar biasa tentu juga tertuju pada mahasiswa yang berperan aktif dalam tumbangnya rezim pemerintahan yang korup. Namun, sebagai mahasiswa saya juga merasa bahwa itu semua belum cukup. Ibarat kita meruntuhkan bangunan rumah, namun rumah yang sama degan cat berbeda kembali dibangun.

Sama halnya dengan suatu rezim runtuh, kemudian terbangun rezim baru yang kemiskinan dan pengangguran tetap jadi masalah utama. Suatu rezim yang runtuh kemudian dibangun dengan korupsi yang terus diwarisi.

 

Mungkin terlalu berlebihan ketika saya sebagai mahasiswa meminta mahasiwa lain melakukan hal besar seperti membongkar korupsi para pejabat atau para wakil rakyat. Saya juga cukup paham bahwa mereka berada dalam ruang gelap yang tidak sembarang dimasuki.

Harapan kecil saya yang boleh jadi juga harapan semua kita, baik ibu-bapak kita, guru-guru kita. Bahkan harapan dari nurani kita yang kadang kalah oleh rasionalisme yang kita junjung tinggi. Setidaknya saya berharap kita (saya dan mahasiswa lainya) mampu membuat skripsi sendiri (original). Caranya dengan meningkatkan minat membaca dan melakukan diskusi  bersama.

Ikut terlibat dalam kegiatan sosial sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat. Saya juga berharap, kita mampu memutus mata rantai korupsi setidaknya di organisisasi kampus. Dunia kampus adalah ruang belajar, ruang diskusi dan ruang pencerahan. Maka jangan berusaha untuk dipolitisasi.

Hal-hal sederhana inilah yang akan menentukan hal-hal besar yang kita lakukan ketika kita mungkin sepuluh atau dua puluh tahun mendatang telah menjadi Presiden, Mentri, Gubernur, Walikota atau paling rendah kepala desa. Semoga!

Asriatun,

Mahasiswi Program Studi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh, Aceh.

(faj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini