JAKARTA - Belakangan ini Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) sibuk mempromosikan jamu. Puan mengajak sejumlah pejabat pemerintahan untuk menyosialisasikan minum jamu. Bahkan dia mengajak puluhan ribu anak sekolah untuk minum jamu di alun-alun Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Lalu, kenapa Puan terus mempromosikan jamu?
“Jamu adalah warisan bangsa yang perlahan mulai tergusur dengan obat-obatan herbal dari negara lain. Kebiasaan minum jamu sudah ada sejak dulu kala, sudah ada sejak Majapahit, bahkan dalam relief Borobudur juga ada. Tapi kita bukan bicara soal sejarah, yang kita bicarakan adalah masa kini. Apa yang bisa kita lakukan saat ini, menjaga warisan budaya luhur adalah kewajiban kita,” ujarnya disela-sela kunjungan kerja ke Balai Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan, Kebun Tanaman Obat Dlingo di Tawangmangu, Jawa Tengah.
Jamu bukan barang baru buat puteri Presiden Ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri ini. Dia menuturkan bahwa sejak kecil, ibunya sudah menanamkan kebiasaan minum jamu. Kebiasaan itu tertanam hingga kini. “Dulu saya dicekoki oleh ibu untuk minum jamu. Saya sempat menolak karena rasanya pahit, tetapi lama-lama jadi kebiasaan. Dan ternyata sampai saat ini khasiatnya masih ada,” tutur Puan.
Sekarang Puan mengajak anak-anaknya untuk minum jamu. “Di keluarga saya, sekarang saya mengajari anak-anak dan suami untuk minum jamu. Bahkan setelah menjadi menteri, saya mengajak menteri lainnya untuk minum jamu,” ujar Puan.
Puan bercita-cita, kebiasaan minum jamu bisa meluas di seluruh kalangan, menjadi warisan budaya yang tidak hilang. Jamu dan kebiasaan meminumnya, menjadi identitas bangsa Indonesia. Hal ini sangat penting di tengah serangan herbal impor dan obat-obatan asing. Jamu bisa menjadi solusi untuk masyarakat Indonesia, selain biayanya murah, juga sudah mengakar kuat di seluruh kebudayaan yang ada di Indonesia.
Selain itu, dengan menjadikan meminum jamu sebagai kebiasaan, maka akan membantu usaha kecil menegah dan home industry. Jamu bisa menjadi solusi untuk membantu perekonomian keluarga dengan pemberdayaan perempuan.
Puan tidak menolak jika kebiasaan minum jamu belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Tantangan yang sering terdengar adalah karena jamu memiliki rasa yang pahit. Tapi Puan menyebutkan, saat ini sudah banyak produk-produk jamu yang memiliki inovasi untuk menghilangkan rasa pahitnya.
“Untuk memulai kebiasaan minum jamu, tidak harus yang pahit-pahit dulu. Beras kencur, wedang jahe, atau sari temulawak, juga bisa. Buat anak-anak, tanaman itu dipercaya memiliki khasiat. Jika sejak kecil sudah dibiasakan, maka untuk minum jamu yang lainnya tidak akan bermasalah,” ulasnya.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.