JAKARTA - Mantan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, mengungkap perbedaan guru yang bisa dan tidak bisa digantikan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurutnya, pengajar yang bersifat mekanistik dan repetitif dalam mengajar cenderung dapat digantikan. Sementara guru yang menanamkan nilai, etika, serta inspirasi kepada peserta didik tidak dapat digantikan AI.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mengatakan, AI memang mampu meningkatkan kapasitas intelektual manusia secara signifikan. Namun, AI tidak bisa menggantikan fungsi pendidikan karakter yang menjadi tugas utama guru.
“AI itu membuat tadi, orang yang IQ-nya 120 bisa jadi 240, tapi AI tidak bisa memberikan pada kita moralnya,” ujar Anies saat menjadi pembicara dalam open house di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (6/5/2026).
Anies menekankan, di tengah perkembangan teknologi, peran guru justru semakin krusial dalam membentuk arah penggunaan kemampuan tersebut.
“Jadi jangan pernah merasa peran guru itu berkurang karena AI. Justru ibu-bapak gurulah yang memberikan etika, moral itu,” katanya.
Ia juga menyoroti tidak semua peran pengajar memiliki ketahanan yang sama terhadap disrupsi teknologi. Menurutnya, metode pengajaran yang bersifat mekanistik dan berulang berpotensi tergantikan.
“Guru yang mekanistik, repetitif, recycle, bisa diganti teknologi enggak? Bisa. Tapi guru dengan nilai, dengan etik, dengan inspirasi, dengan hati, bisa enggak diganti teknologi? Enggak bisa,” katanya.