Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Korban Pembunuhan Sadis Dikenal Kocak di Sekolah

Erie Prasetyo , Jurnalis-Sabtu, 11 April 2015 |22:55 WIB
Korban Pembunuhan Sadis Dikenal Kocak di Sekolah
Korban Pembunuhan Sadis Dikenal Kocak di Sekolah (Foto: Ilustrasi)
A
A
A

BINJAI - Korban pembunuhan sadis, yang masih duduk di bangku SMA kelas I, Dicky Sapriandi (16), warga Jalan KL Yosudarso Lingkungan II, Jati Utomo, Kota Binjai, Sumatera Utara, dikenal sebagai sosok yang ramah dan lucu.
 

Dicky meninggal dunia dengan luka cukup sadis, terdapat luka leher digorok dan lidah dipotong. Dia menjadi korban pembunuhan saat sedang bersama sang pacar, Aprilia (16), warga Kuala Madu. 

Saat sedang asik berpacaran di pinggir jalan traktor dekat persawahan, tiba-tiba datang tiga pria yang kemudian membunuh Dicky, sedangkan Aprilia berhasil melarikan diri.

Jenazah Dicky dibawa ke RS Bhayangkara Brimob Polda Sumut, untuk diautopsi. Dikarenakan pada dini hari tidak ada petugas kesehatan, maka jenazah Dicky dititipkan di lemari pendingin sebelum diautopsi pada hari ini.

Kapolsek Binjai Timur, Kompol Noni Torong mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan kepada Della, yang merupakan saksi tunggal kasus pembunuhan tersebut.

"Pelaku masih diselidiki. Saksi tunggalnya masih dimintai keterangan," kata Noni, Sabtu (11/4/2015).

Ternyata, kabar tewasnya Dicky Sapriandi alias Cemang langsung menyebar luas, hingga sampai ke telinga teman-teman satu sekolahnya. Puluhan siswa kelas I SMK Abdi Karya Binjai, yang datang ke rumah duka menyebutkan, bahwa Dicky adalah teman yang baik dan memiliki rasa humor yang sangat tinggi.

Tidak hanya kepada teman sebangku, Dicky juga terkenal baik di sekolahnya.

"Saya teman sebangku Dicky. Dia orang baik dan sangat lucu," kata Eko Syahputra (16) teman sebangku korban.

Ternyata, selama seminggu ini, Dicky menunjukkan gelagat aneh kepada teman-temannya. Menurut Eko, Dicky semakin baik dan bahkan menjadi suka menawarkan diri untuk mentraktir teman satu sekolahnya.

"Sebelum pembunuhan ini, Dicky berubah total. Dia berubah menjadi sangat baik dan mentraktir kami makan di kantin. Biasanya, apabila pulang sekolah, dia mengangkat bangkunya sendiri ke atas meja, tapi dalam seminggu ini dia menawarkan diri untuk mengangkat semua bangku siswa di kelas," kenang Eko sambil menitikkan air mata.

Eko menambahkan, semua itu adalah kenangan termanis yang ditinggalkan Dicky kepada teman satu sekolahnya. Bahkan, Dicky orangnya ramah dan memiliki banyak teman di sekolah. Begitu juga di luar sekolah, dia anak baik dan punya pergaulan luas.

"Dicky baik tidak hanya di kelas dan sekolah. Dia juga punya banyak kawan di luar sekolah. Saya salut sama Dicky. Akan banyak orang yang akan mengenang dia," katanya.

Tragisnya lagi, Dicky seperti tahu, kalau dia akan dijemput ajal. Di mana, sehari sebelum dia dibunuh dengan sadis, Dicky mengatakan, kalau dia tidak akan bertemu lagi dengan teman-temannya.

"Aku sempat merasa aneh dengar pernyataan dia. Aku tanyakan pada dia, memang mau kemana kau, kok enggak ketemu lagi kita. Dia tak jawab, dia bilang. Sudahlah, ayoklah pulang," tanya Eko.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement