"Anak-anak ini minta keluar dari sekolah itu karena tidak tahan dijadian sasaran teman-teman sebayanya. Kita sebagai orangtuanya tidak memaksakan akhirnya keluarkan saja dari sekolah dan memasukkannya di Metro School Makassar," kata Haji Mohammad Thoyib.
Metro School adalah sekolah swasta otomatis tidak ada tanggungan biaya dari IOM, orang tua pengungsi harus bayar sendiri kebutuhan sekolahnya. Alhasil, karena biaya yang harus dikeluarkan cukup tinggi dan dana bulanan dari IOM juga sudah dipotong yakni hanya Rp 500 ribu perbulan, anak-anak ini pun akhirnya berhenti di tengah jalan termasuk Mohammad Azis (16) dan Nur Azizah (14), putra pertama dan kedua ibu Hasinah yang lebih dulu sekolah di Metro School.
"Satu anak itu ongkos angkotnya saja pulang pergi Rp 20 ribu belum lagi untuk kebutuhan lainnya di sekolah termasuk uang jajan sementara per anak saat ini hanya ditanggung Rp 500 ribu setelah adanya pemotongan. Mau kerja untuk dapatkan uang menutupi kebutuhan itu juga tidak mungkin karena aturannya tidak diperbolehkan kerja," tutur Haji Mohammad Thoyib yang diaminkan oleh Mohammad Syarif dan Hasina, dua orang tua yang anak-anaknya kini putus sekolah.
Sementara itu, Elisabeth Wehelmina Fransisca Wairisa, (41), ibu ketua RT 1, RW 5 Maricayya, Kecamatan Makassar mendampingi pengungsi ini mengatakan, informasi yang dia peroleh memang bantuan yang diterima itu Rp 1.250.000 per jiwa per bulan juga untuk anak-anak tapi saat ini sisa Rp 500 ribu saja untuk anak-anak. "Katanya sih karena anak-anak pengungsi ini kerap belanjakan uangnya berlebih maka bantuan untuk anak-anak itu akhirnya dipotong," tutur ibu ketua RT yang akrab disapa Fanny ini.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.