Soeharto di Mata Pengagum Setianya

Bramantyo, Okezone · Senin 08 Juni 2015 10:34 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 08 510 1161769 soeharto-di-mata-pengagum-setianya-rJgzumtiQy.jpg Kiswadi Agus saat bertemu dengan Soeharto (Foto: dok pribadi)

SOLO - Genap tujuh tahun sudah mantan Presiden Soeharto wafat. Meski sudah tujuh tahun wafat, ternyata hingga saat ini makam almarhum Soeharto di Astana Giribangun tak pernah sepi dari para peziarah.

Setiap harinya banyak peziarah dari luar Kota Karanganyar selalu berziarah ke makam Keluarga Cendana yang berada di bawah lereng Gunung Lawu, tepatnya di Desa Giribangun, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah.

Tak hanya sepi dari para peziarah, sosok mantan penguasa Orde Baru ini ternyata masih begitu kuat membekas di sebagian masyarakat Indonesia, salah satunya Kiswadi Agus. Bahkan begitu kagumnya terhadap sosok Soeharto, dirinya berani mengumumkan kepada publik sebagai pendukung Soeharto. Padahal saat dirinya mendirikan Yayasan Keluarga Besar Soeharto, saat itu kejayaan Soeharto selama 32 tahun telah runtuh.

"Saya tak peduli. Meski saat saya mendirikan Yayasan Keluarga Besar Soeharto, banyak orang menghujat Pak Harto. Bahkan, orang-orang yang dulu ikut menikmati kejayaan Pak Harto pun lari menyelamatkan diri. Termasuk, putra-putrinya sendiri lari entah ke mana," ujar Kiswadi saat ditemui Okezone, di Sukoharjo, Jawa Tengah.

Pelan namun pasti, Yayasan Keluarga Besar Soeharto yang didirikan banyak mendapat dukungan. Bahkan, tak hanya di Karanganyar yang menjadi tempat yayasan itu didirikan, sejumlah pemuda di daerah lain ikut bergabung di yayasan tersebut.

Kiswadi mengaku begitu mengagumi sosok Soeharto. Sebab, diakui atau tidak oleh bangsa ini, Soeharto telah banyak berjasa, termasuk saat perang merebut kemerdekaan.

"Bung Karno memang presiden pertama Indonesia dan secara de jure Soekarno juga sang Proklamator. Namun secara de facto, negara tidak bisa memungkiri bila Pak Harto juga salah satu proklamator Indonesia. Pak harto juga berjasa terhadap bangsa ini. Melalui serangan enam jam di Yogyakarta, Pak Harto mampu menunjukkan kalau bangsa ini ada. Ide memang bukan dari Pak Harto. Pelaksana di lapangan itu Pak Harto. Ide tanpa pelaksana sama saja bohong," ungkapnya.

Fakta lainnya mengapa begitu mengagumi sosok Soeharto. Penyebabnya, Pak Harto terbukti berhasil menyelamatkan bangsa Indonesia dari sebuah kudeta aliran terlarang yang akan mengubah paham negara.

"Di alam demokrasi, sah-sah saja adanya perbedaan cara pandang dan orang berkomentar tidak sama dengan kita. Silakan tidak sependapat dengan kita, namun fakta sejarah tersebut tidak bisa dimungkiri," tegasnya.

Tak hanya mengagumi sosok Soeharto, melalui yayasan yang didirikan inilah Kiswadi getol memperjuangkan agar Soeharto layak diangkat menjadi pahlawan nasional. Berbagai upaya terus dilakukan pihaknya agar sosok Soeharto mendapat gelar pahlawan nasional.

Berbagai seminar hingga bukti-bukti lainnya telah disodorkan Kiswadi melalui yayasan yang didirikan ini kepada Kementerian Sosial agar memasukkan nama Soeharto sebagai pahlawan nasional.

Alasan Kiswadi kenapa Soeharto layak mendapat gelar pahlawan nasional karena memang sangat layak disebut Bapak Bangsa. Tak hanya Soekarno yang dikagumi masyarakat Indonesia, SOeharto juga layak. Ini bisa dilihat saat Soeharto wafat, prosesi jalannya pemakaman Pak Harto banyak dihadiri masyarakat luas.

Bahkan hingga saat ini area pemakaman Pak Harto di Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, masih dikunjungi masyarakat luas. Berarti, menurut Kiswadi, masyarakat sekitar makam Pak Harto ekonominya bisa diberdayakan.

"Jangan salahkan bila kemudian timbul keinginan masyarakat untuk kembali merasakan berkecukupan sandang pangan di saat waktu dipimpin Pak Harto. Tapi kalau ini ditanyakan kepada orang-orang yang tak suka dengan Pak Harto, sudah pasti komentarnya miring," ujar dia.

Termasuk di saat sosok Soeharto tak lagi dihujat, orang-orang yang dahulunya menghilang, satu persatu bermunculan. Bahkan, Kiswadi mensesalkan banyaknya klaim dari orang-orang yang dulunya menghilang mengaku kalau dialah yang berjasa mempertahankan agar nama pak Harto tidak dihujat.

Dari putra-putri Pak Harto sendiripun sempat ada yang mempermasalahkan kepada dirinya yang berani menggunakan nama keluarga Soeharto. Kemudian meminta agar yayasan yang didirikannya untuk dibubarkan namun permintaan itu secara tegas ditolaknya.

Menurut Kiswadi, meski dirinya memang tidak ada hubungan keluarga atau kerabat dengan Keluarga Cendana, tapi tak ada hak bagi keluarga untuk melarang warganya untuk menganggumi sosok Soeharto. Sebab, sadar akan adanya provokasi dari pihak ke tiga terhadap Keluarga Cendana, maka Kiswadipun merubah nama yayasannya menjadi Yayasan Keluarga Besar Indonesia (YKBSI).

"Saya berjuang agar Pak Harto dianugrahi gelar pahlawan bukan mengharapkan imbalan apa pun dari anak-anak Pak Harto. Ini murni keinginan dari para pengagum Soeharto. Dan sampai kapan pun saya akan berjuang. Kalau ada yang meragukan, saya berani berdebat dengan para peragu terhadap sosok Soeharto," pungkasnya.

(crl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini