Ia mengatakan, jauh sebelum program KB dengan konsep dua anak lahir, warga Bali telah mengenal pembatasan anak yang jumlahnya empat, yakni Wayan atau Gede/Putu/Nengah, Kadek, Nyoman/Komang, dan terakhir Ketut.
Berdirinya patung itu juga didukung Bendesa Baluk, I Ketut Sinda. Kata dia, patung itu simbol untuk kelestarian adat budaya. Hanya saja, pihaknya tidak bermaksud mengajak atau mengimbau sebagaimana gambaran patung untuk memiiki empat anak.
Menurutnya, program KB di Bali dinilai sudah cukup sukses. Hal tersebut ditandai dengan menurunnya jumlah KK. Namun, dia berharap catur warga dengan empat saudara atau anak ini tetap bisa lestari. (ira)
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.