Dia menilai hal ini sangat kejam sekali karena negara tidak memberikan status yang jelas bagi para terpidana mati. "Sekarang nih masih banyak sekali di dalam. Ini kita tidak hanya menyiksa pelaku kejahatannya tapi keluarganya juga,” katanya.
Terlebih ketika sudah menjadi tahanan militer. Berkomunikasi dengan keluarga sangat susah. Tentunya ini akan berimbas dengan menyiksa dari keluarga si terpidana mati tersebut.
“Saya pikir kok kita kejam banget coba berikan statusnya agak jelas kenapa? Suud Rusli ini tiga tahun lebih di tahanan militer. Saya terakhir merampok 16 toko emas, 26 nasabah melibatkan tiga ABRI sampai di Poncol itu komunikasi dunia luar susah setengah mati,"bebernya.
Menurutnya, hukuman mati yang tidak jelas kapan masa eksekusi tidak hanya menyiksa terpidana saja tetapi juga keluarga. Apalagi dengan kasus Suud Rusli yang telah tiga tahun tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga selama di Rutan Militer.
“Dalam ajaran Islam, Allah katakan walaupun dosa yang kalian lakukan penuh langit dan bumi kalau kalian mau bertaubat Allah pasti menerima. Saya minta hakim yang mulia, kita ini dipenjara besar, penjara kecil Nusakambangan, Salemba, Porong penjara kecil. Kita penjara besar. Kita akan hadapi pengadilan akhirat. Mudah-mudahan kita ada di tempat persidangan ini (MK) tidak hanya membawa undang-undang tapi hati nurani,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.