Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Perjuangan Eva Susanti 'Melawan' Kapitalis Penindas Petani

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis-Senin, 09 November 2015 |17:00 WIB
Perjuangan Eva Susanti 'Melawan' Kapitalis Penindas Petani
Bendera Merah Putih (Foto: Ilustrasi)
A
A
A

JAKARTA - Eva Susanti Bande harus mendekam selama tujuh bulan lantaran aktivitasnya sebagai pejuang agraria. Ibu tiga anak ini harus menghabiskan setengah dari usia hidupnya untuk melawan para pemodal yang menindas para petani di Sulawesi Tengah.

"Praktik penindasan sudah terjadi selama puluhan tahun. Para petani tidak bisa memprotes kesewenang-wenangan yang dialami mereka karena ada penindasan dan ancaman yang membuat petani takut luar biasa," kata Eva saat diwawancarai sebagai Kandidat Pahlawan untuk Indonesia 2015, di Sindo Trijaya, MNC Tower, Jakarta, Senin (9/11/2015).

Eva berkisah, kala itu dirinya mendengar adanya seorang kepala desa yang dipenjara karena membela warganya. Saat itu, para warga harus kehilangan tanah milik mereka setelah dirampas oleh perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit.

"Dimulai dari kisah itu saya mendirikan Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS). Sebuah organisasi rakyat yang memperjuangkan hak para petani untuk mendapatkan tanahnya kembali setelah dirampas para pemilik modal!" ujar Eva.

Alumnus Fisip Universitas Tadulako 1998 ini mengatakan, tidak pernah gentar dalam melakukan perlawanan kepada para pemilik modal di Timur Indonesia itu. Menurut dia, dalam berjuang dirinya telah sadar resiko meskipun itu harus mati.

"Pada praktiknya juga ada banyak petani yang mati. Saya bekerja sadar resiko itu yang cukup menguatkan saya untuk bertahan hidup dan juga melakukan pendampingan baik di bidang hukum terhadap para petani ini," kata Eva.

Eva mengaku kerap mengajak putra-putrinya ketika ingin berdemonstrasi untuk melakukan perlawanan kepada para kapitalis. Tak jarang, lanjut dia, demonstrasi itu juga dilakukan saat dirinya tengah berbadan dua.

"Saya secara tidak langsung mengajarkan anak-anak saya untuk berdemonstrasi. Bahkan, saat saya hamil makanya terkadang kalau saya demo anak-anak juga sering ikut, kalau tidak diajak mereka suka ngambek," kata Eva berseloroh.

Bagi seorang ibu, ada perasaan sedih menghinggapi Eva saat dirinya bersama 24 para aktivis pejuang agraria lainnya dipenjara lantaran dituduh sebagai provokator warga saat melakukan advokasi hukum bagi kaum tani. Saat itu, sang suami mesti harus memindahkan anaknya ke sekolah lain karena menjadi korban bully, sebab sang ibu yang dipenjara.

"Ada perasaan sedih saat saya dipenjara waktu itu. Anak saya tidak mau sekolah, suami mesti pindahkan dia ke sekolah lainnya karena dia di-bully sebab ibunya yang dipenjara. Kalau untuk psikologis saya yakin mereka lebih dewasa dari usianya karena proses pendewasaan itu saya ajarkan sejak dini yang memang ibunya berlatar belakang aktivis," pungkasnya.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement