CIREBON – Sebenarnya daerah Pecinan (China Town) awal terdapat di sepanjang Jl. Pecinan Cirebon (sekarang) yang berdekatan dengan Keraton Keprabonan dan Kanoman. Tahun 1970an di sepanjang Jl. Pecinan masih terdapat rumah-rumah khas etnis Tionghoa dengan ciri relief dua ekor naga yang bertolakbelakang pada bagian atap luar.
Sejak jalan itu diperlebar awal tahun 1980an ciri khas dua ekor naga tersebut dihilangkan. Apalagi dengan adanya peraturan yang rasis dari Pemerintah Orde Baru yang melarang memajang dan menggelar karya seni dari mancanegara, termasuk China.
Pasuketan – Pekiringan – Pekalipan merupakan segitigas emas untuk bisnis kalangan etnis Tionghoa. Di sekitar daerah itu terdapat rumah ibadah mereka, berupa kelenteng maupun vihara. Sebut saja Kelenteng (Lithang) Talang (berbelahan dengan PT.BAT) dan Vihara Welas Asih yang berhadapan dengan PT BAT.
Di bagian barat Pasar Kanoman terdapat vihara Balai Keselamatan. Di bagian timur terdapat Pasar Talang, yakni “pasar dedean” yang menjajakan barang bekas. Istilah “talang” sendiri diartikan sebagai “talangan” atau pengganti sementara untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Sedangkan nama “Pasuketan” diduga berasal dari kata “suket” yang berarti rumput. Pada masa kejayaan Kesultanan Cirebon, daerah tersebut dijadikan tempat atau gudang rumput (bahasa Cirebon = suket) hewan-hewan peliharaan kesultanan.
Di sekitar itu terdapat pula masjid Jagabayan yang menurut pewarisnya (alm. KH. Abdul Qodir Wahab – saat masih hidup) merupakan pos penjagaan untuk kesultanan. Namanya juga “Jagabayan” yang berarti menjaga bahaya atau serangan dari luar. Kini semua sudah berubah modern. Bagaimana selanjutnya...