Kala itu, para buruh wanita dari pabrik garmen, melakukan unjuk rasa untuk dengan menuntut kondisi buruk yang mereka alami, mulai dari diskriminasi hingga tingkat gaji yang tak setara dengan buruh laki-laki. Aksi demonstrasi itu tak berjalan damai, sehingga petugas kepolisian bertindak represif dengan menyerang para demonstran untuk membubarkan aksi.
Hari Perempuan Sedunia sempat hilang pada masa 1910-20an. Peringatan itu baru kembali dihidupkan, berbarengan dengan bangkitnya feminisme pada era 60an. Di tahun 1974, PBB menyokong Hari Perempuan Sedunia yang ditetapkan pada 8 Maret.
Salah satu faktor yang mendorong lahirnya Hari Perempuan Internasional ini juga berasal dari satu kejadian mengenaskan yang pernah menimpa buruh perempuan, pada sebuah kebakaran besar. Kejadian di Pabrik Triangle Shirtwaist tahun 1911 itu menewaskan setidaknya 123 nyawa buruh perempuan.
(Rachmat Fahzry)