JAKARTA – Karier Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Tito Karnavian di korps Bhayangkara bisa dibilang cukup cemerlang. Termasuk perwira polisi yang menonjol dalam menangani terorisme membuat Tito diangkat menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) oleh Presiden Joko Widodo.
Sebelum menjadi Kapolda Metro Jaya, lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1987 itu telah meniti sejumlah karir cemerlang di lingkungan Polri. Capaian luar biasanya dimulai pada tahun 2001, saat itu Tito yang memimpin Tim Kobra berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang merupakan mantan Presiden Soeharto dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiudin.
Di tahun 2004, dengan pangkat AKBP, pria kelahiran Palembang itu terpilih sebagai Kepala Detasemen 88 Antiteror Polda Metro Jaya. Saat itu drinya berhasil membongkar jaringan terorisme di Indonesia salah satunya adalah melumpuhkan teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005. Atas kepiawaiannya itu, pangkatnya dinaikkan menjadi Kombes Pol.
Saat konflik Poso mencuat di tahun 2007, Tito bersama rekan-rekannya juga sukses membongkar konflik Poso dan meringkus orang-orang yang terlibat di balik konflik tersebut serta meringkus puluhan tersangka yang sebelumnya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).
Pada tahun 2009, pria berusia 51 tahun itu turut tergabung dalam tim penumpasan jaringan terorisme pimpinan Noordin M Top. Selain itu, Tito mendapatkan banyak penugasan untuk pergi ke berbagai belahan dunia dari Asia, Amerika hingga Eropa. Atas kesuksannya itu, ia diangkat menjadi Kapolda Papua.
Dua tahun menjadi Kapolda Papua, Tito pun ditarik menjadi Kapolda Metro Jaya. Baru Sembilan bulan menjadi Kapolda Metro Jaya, Tito sudah mendapat kenaikan pangkat lagi menjadi Kepala BNPT menggantikan Komjen Pol Saud Usman yang memasukki masa pensiun.
Dalam surat Kapolri bernomor ST/604/III/2016 disebutkan, posisinya akan digantikan oleh Kapolda Jawa Barat Irjen Moechgiyarto yang tak lain merupakan senior Tito di Akpol tahun 1985.