Pembangunan masjid raya itu dilaksanakan oleh Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Peletakan batu pertama pembangunannya dilakukan pada 9 Oktober 1879 (13 Syawal 1296 Hijriah) oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Proses pembangunan masjid kemudian mulai dilaksanakan pada tahun 1881 dengan hanya satu kubah. Saat itu, masjid tersebut dinamai Masjid Raya Kutaraja.
Perluasan dan perombakan terus dilakukan seiring dengan bertambahnya jemaah dan keterbatasan kapasitasnya. Tercatat beberapa kali proses perombakan terjadi di masjid Baiturrahman. Salah satunya pada tahun 1935, 1975, 1981, dan 1991.
Proses perombakan pada tahun 1991 hingga 1993 merupakan yang paling fenomenal. Saat itu, dilakukan perluasan masjid hingga luas masjid menjadi 3.760 meter persegi dengan menggunakan lantai marmer buatan Italia. Perluasan itu dapat menampung hingga 8.000 orang jemaah. Selain itu, juga dilakukan penambahan kubah hingga 7 buah, 4 menara, dan 1 menara induk di luar bangunan masjid.
Di luar area masjid, pelatarannya memiliki luas hingga 4 hektare dan memiliki sebuah kolam. Beberapa bagiannya berupa lapangan berumput. Tentu saja penampakan itu kini tak terlihat karena saat dilakukan renovasi kembali. Bedanya, perombakan tahun ini hanya dilakukan pada bagian pelataran masjid, bukan di dalam area masjidnya.
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.