MEDAN - Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Sumatera Utara merampungkan penelitian mereka atas kematian massal ribuan ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) di perairan Danau Toba di Desa Bandar Purba, Kecamatan Haranggaol, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pekan lalu.
Kesimpulan penyebab kematian ribuan ikan didapat berdasarkan hasil investigasi tim yang diturunkan sehari setelah kejadian. Tim I turun pada 3 dan 4 Mei terdiri dari Badan Penelitian dan Pengembangan yakni Prof Krismono dan staf teknis serta tiga orang dari Tim Kesehatan Ikan dan Lingkungan Diskanla Sumut. Kemudian Tim 2 pada 6-7 Mei terdiri dari UPT BAT Jambi, Badan Karantina Ikan dan Pengendali Mutu (BKIPM) dan Diskanla Sumut.
Kepala Diskanla Sumatera Utara Zonny Waldi mengatakan, penyebab kematian ikan tersebut karena penurunan secara drastis kadar oksigen yang terlarut dalam air di danau terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Baca: Ratusan Ton Ikan di Danau Toba Mati Mendadak
Zonny menjelaskan, untuk dapat hidup, ikan pada kondisi normal membutuhkan oksigen di atas 3 ppm (part per million). Namun dalam kondisi saat ikan-ikan itu mati, kondisi oksigen yang terkandung di dalam air danau toba hanya 1 ppm.
“Untuk mendapatkan harga lebih tinggi jelang Ramadan dan Lebaran. Petani memutuskan untuk menunda panen. Nah ini menjadi salah satu faktor penyebabnya. Ukuran ikan yang semakin besar membuat kebutuhan akan oksigen semakin banyak. Ini selanjutnya membuat turunnya kadar oksigen di air yang berada di KJA,” ujar Zonny, Rabu (11/5/2016)
Faktor lainnya lanjut Zonny, adalah kondisi KJA yang sangat padat. Di mana untuk KJA ukuran 5 meter kubik, idealnya diisi 5 ribu ekor ikan. Namun dalam praktiknya, para petani memasukkan hingga 15 ribu ekor ikan dikeramba tersebut.
“Posisi KJA juga tidak teratur, sehingga aliran angin dan sirkulasi air menjadi kurang baik di KJA. Ini juga menyebabkan kondisi oksigen semakin buruk,” tambahnya.
Faktor cuaca lanjut Zonny juga berperan cukup besar. Kondisi di sekitar perairan Danau Toba yang mendung dan minim sinar matahari, membuat proses fotosintesa tumbuhan air dan plankton yang ada di air menjadi lambat dan membuat proses produksi oksigen menurun.
“Tidak ada angin, maka tidak ada ombak sehingga tidak ada penambahan oksigen di permukaan air. Selain itu perairan Haranggaol terletak di antara bukit kapur sehingga pada waktu tertentu PH bisa naik sehingga dapat menyebabkan racun,” jelasnya.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.