WEST YORKSHIRE - Kancah perpolitikan Inggris tengah berduka. Seorang anggota parlemennya, Helen Joanne “Jo” Cox dinyatakan meninggal pada Kamis, 16 Juni 2016 siang waktu setempat di Rumah Sakit Umum Leeds, selang sejam setelah ditikam dan ditembak seorang terduga aktivis anti-Islam.
Para pembesar Negeri Ratu Elizabeth II itu pun melayangkan ungkapan duka citanya. Mulai dari Wali Kota London; Sadiq Khan, hingga Perdana Menteri (PM) Inggris; David Cameron. (Anggota Parlemen Tewas Ditembak, Sadiq Khan & PM Inggris Syok).
Demi berbelasungkawa dan mengenang sosok aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga politikus Partai Buruh tersebut, Kantor PM Inggris di Downing Street No.10 pun mengibarkan bendera setengah tiang.
Selain para koleganya di arena perpolitikan Inggris, tentu pihak yang paling terpukul atas kematian wanita berusia 41 tahun itu adalah keluarga yang ditinggalkannya – seorang suami; Brendan Cox dan dua anaknya.
“Hari ini adalah bab baru dalam hidup kami. Lebih sulit, lebih menyakitkan, tiada kebahagiaan, tiada cinta,” ungkap Brendan Cox, sebagaimana dinukil Mirror, Jumat (17/6/2016).
“Saya dan teman-teman Jo serta keluarga akan terus melanjutkan hidup untuk mencintai dan merawat anak-anak kami, serta melawan kebencian yang jadi penyebab Jo terbunuh. Jo percaya pada dunia yang lebih baik dan dia memperjuangkannya setiap hari,” tambahnya.
Sedikit mengulas sosoknya, Jo lahir di Batley, West Yorkshire, Inggris pada 22 Juni 1974 dari seorang ibu, Jean yang bekerja sebagai sekretaris sekolah dan seorang ayah, Gordon yang merupakan buruh pasta gigi dan hairspray di Leeds.
Pendidikan dasarnya dihabiskan di Heckmondwike, hingga jadi yang pertama di keluarganya yang mengenyam pendidikan tinggi di Pembroke College dengan jurusan Ilmu Sosial dan Politik.
Jo juga pernah menjajaki kariernya di organisasi internasional Oxfam dan di tempat inilah, Jo bertemu pria pujaan hati yang kemudian menikahinya, Brendan Cox, hingga memiliki dua buah hati.
Sebelum masuk dunia politik, Jo juga sempat menjadi pekerja sosial di Yayasan Bill dan Melinda Gates. Adapun di dunia politik, Jo memulainya dengan menjadi Ketua Jaringan Buruh Wanita, serta menjadi penasihat senior lembaga amal anti-perbudakan, Freedom Fund.
Tahun 2015 lalu, Cox bisa duduk di salah satu kursi parlemen dari Partai Buruh, setelah menang di daerah pemilihan Batley dan Spen, untuk menggantikan Mike Wood yang sudah duduk di parlemen sejak 1997.
Dengan duduk sebagai anggota parlemen, Cox kian lantang menyuarakan masalah HAM, serta jadi salah satu politikus yang paling ‘nyaring’ mendorong Inggris untuk lebih banyak menerima para pengungsi asal Timur Tengah.
Jelas, meninggalnya Jo Cox juga jadi kehilangan besar bagi sejumlah lembaga pembela HAM, macam Amnesti Internasional, sebagaimana yang diungkapkan Direktur Amnesty Internasional (cabang) Inggris, Kate Allen.
“Kami sangat sedih mendengar kabar tragis ini. Jo seorang juru kampanye soal keadilan dan HAM yang tak kenal lelah. Kampanyenya tentang pengungsi, krisis Suriah dan hak-hak wanita membuatnya jadi anggota parlemen yang paling berdedikasi. Kami bangga pernah bekerja dengannya,” ungkap Allen.
Jo Cox meninggal setelah ditikam dan ditembak Tommy Mair, seorang pelaku yang terduga aktivis anti-Islam dan partai sayap kanan, Britain First berusia 52 tahun di dekat sebuah perpustakaan di Birstall, West Yorkshire, Kamis, 16 Juni sekira pukul 12.53 waktu setempat.
Jo Cox sempat dilarikan dengan helikopter medis ke RSU Leeds, tapi nyawanya tak tertolong dan sekira pukul 1.48 siang, tim dokter yang menanganinya menyatakan Jo Cox telah tiada. (Baca: Pelaku Penembakan Anggota Parlemen Inggris Diduga Aktivis Anti-Islam).
Sebelum meninggal, Jo Cox tengah membantu PM Cameron mengampanyekan Inggris untuk tetap bertahan sebagai anggota Uni Eropa, jelang Referendum “Brexit” pada 23 Juni 2016 mendatang.
Pembunuhan Jo Cox ini merupakan pembunuhan terhadap anggota Parlemen Inggris yang pertama, sejak insiden serupa pada 1990 lalu. Kala itu, seorang anggota Parlemen Inggris, Ian Gow tewas dalam sebuah ledakan bom mobil yang diketahui dilakukan simpatisan IRA atau Milisi Republik Irlandia.
(Randy Wirayudha)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.