Bangunan tersebut, tampak masih sangat kokoh, meski ada beberapa plafon yang terbuat dari bambu sedikit hancur namun ruang kelasnya masih bisa dipergunakan dengan baik.
Nengah Kompiang yang merupakan alumni sekolah tersebut sangat prihatin dan ingin memperjuangkan bekas sekolahnya dahulu agar tetap memiliki murid dan mengaktifkan kembali sekolah yang memiliki nilai sejarah itu.
"Itu sekolah pertama di Desa Sibetan, saya alumni di sana tahun 80-an. Saya ingin mempertahankan sekolah itu sampai sekarang, tapi pemerintah pusat belum memberikan perhatianya ke sini," tambahnya kecewa.
Saat ini sekolah tersebut tidak memiliki satu muridpun, empat guru relawan yang sebelumnya pernah mengajar di sana ada beberapa yang pindah ke Denpasar lantaran mendapatkan pekerjaan yang layak. sehingga sekolah tersebut sudah tidak lagi aktif dan hanya sebatas bangunan kosong saja.
"Mau bertahan juga sulit, karena murid tidak ada. Guru di sana relawan yang dipakai penjaga sekolah satu, guru relawan diberi upah yang tdak seberapa, kita sudah menghadap kelian banjar adat, dari beliau akan mengkaji api belum ada sampai saat ini," tutupnya.
(Amril Amarullah (Okezone))
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.