Terungkap 2.116 Kisah Kelam Pengungsi di Nauru

Randy Wirayudha, Okezone · Rabu 10 Agustus 2016 12:28 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 10 18 1459797 terungkap-2-116-kisah-kelam-pengungsi-di-nauru-Si4O7IYONe.jpg Lebih dari dua ribu laporan diungkap satu tim jurnalis yang menginvestigasi fakta-fakta penahanan pengungsi di Nauru (Foto: David Gray/REUTERS)

NAURU – Mengungsi dari negeri asalnya, ribuan orang dari Myanmar hingga Timur Tengah mengharapkan nasib yang lebih baik di negeri orang. Australia pun jadi tujuan favorit yang ternyata, justru bak keluar mulut harimau, masuk mulut buaya.

Nasib mereka tidak lebih baik, lantaran oleh otoritas Negeri Kanguru, mereka dibuang ke Pulau Manus di Papua Nugini dan negara pulau terkecil di Pasifik Tengah, Nauru. Sejak 2013, gelombang pengungsi yang dibuang ke Nauru dimulai.

Namun berbagai pelecehan, kekerasan, hingga penganiayaan mulai dialami para pengungsi sejak 2014. Hal itu sempat terpendam hampir dua tahun, sebelum akhirnya satu tim jurnalis The Guardian, membocorkan lebih dari dua ribu laporan berbagai kasus yang mendera para pengungsi.

Nauru sebagiamana Papua Nugini, seolah jadi negara “klien” buat Australia. Negara tetangga di selatan Indonesia ini acap menyuplai berbagia bantuan dan menggunakan bisnis jasa pemerintah maupun perusahaan swasta, demi bergeraknya roda ekonomi Nauru.

Jika di Pulau Manus ada sekira 854 pengungsi pria yang dibuang, di Nauru berdasarkan data akhir Juni lalu, Australia menahan 442 pengungsi, di mana 338 di antaranya pria, 55 wanita dan 49 anak-anak. Mereka ditahan di Regional Processing Centre Nauru dengan pengamanan dari perusahaan keamanan swasta, Wilson Security.

Pelecehan, kekerasan dan penganiayaan terhadap ratusan pengungsi itu pun kemudian bocor. Sebanyak 2.116 laporan diungkap satu tim jurnalis dengan alasan, warga Australia harus tahu bahwa 1,2 miliar dolar Australia yang berasal dari pajak mereka, digunakan untuk menahan para pengungsi di Manus dan Nauru dengan cara yang tak berperikemanusiaan.

Sebagaimana dilansir The Guardian, Rabu (10/8/2016), dari 2.116 laporan, 51,3 persen atau 1.086 kasus melibatkan anak-anak, meski hanya 18 persen dari anak-anak pengungsi yang berada dalam penahanan.

Contoh kasus pelecehan seksual anak yang terjadi di Nauru adalah, adanya laporan dari seorang guru lokal di Nauru, di mana dia menyatakan sering melihat petugas keamanan yang memerintahkan bocah perempuan maupun laki-laki mandi di tempat terbuka, agar bisa ditontonnya dengan jelas. Laporan ini berasal dari kesaksian sang guru pada September 2014.

Kasus lainnya yang bocor dari ribuan laporan itu adalah, pada Juli di tahun yang sama, seorang bocah perempuan berusia di bawah 10 tahun dicabuli sekelompok orang, di mana pria-pria dewasa diundang para petugas keamanan setempat, untuk memasukkan jari-jari mereka ke kemaluan bocah tersebut.

Selain pelecehan, pemerkosaan juga jadi ancaman bagi para pengungsi wanita. Beberapa kasus melukai diri sendiri atau upaya bunuh diri, juga terdapat dari laporan-laporan yang bocor tersebut, di mana mereka memilih ingin bunuh diri agar tidak dicabuli atau diperkosa.

Di samping itu juga terdapat sejumlah kasus trauma dan gangguan kejiwaan para pengungsi yang berada dalam tahanan.

“Menyakiti diri sendiri atau upaya bunuh diri meningkat setelah (pengungsi) ditahan selama enam bulan. Hal ini didorong perasaan ketidakberdayaan mereka. Beberapa di antara mereka juga menjahit bibir sendiri, sebagai ekspresi pembelengguan mereka,” tutur Dr. Peter Young, eks Direktur Kesehatan Mental di Pusat Penahanan Imigrasi Australia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini