Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Teror Bom Medan Bukti Paham Terorisme Tak Gunakan Pendekatan Konvensional

Salsabila Qurrataa'yun , Jurnalis-Selasa, 30 Agustus 2016 |06:15 WIB
Teror Bom Medan Bukti Paham Terorisme Tak Gunakan Pendekatan Konvensional
Personel Gegana Brimob Polda Sumut saat akan melakukan olah TKP pasca-teror bom di Gereja Stasi St Yosep (Antara)
A
A
A

JAKARTA – Pelaku percobaan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi St Yosep di Jalan Mansyur, Medan, Sumatera Utara (Sumut) diketahui masih di bawah umur. Pelaku berinisial IAH (18) diketahui merakit bom melalui kegemarannya bermain internet.

Kabid Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPA), Reza Indragiri Amriel menjelaskan bahwa perkembangan teknologi menjadi salah satu peluang masyarakat mendapatkan informasi. Reza menilai, berkat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, proses indoktrinasi tidak lagi harus melalui pendekatan konvensional.

"Sebaran berbagai pesan atau kampanye dari kelompok-kelompok kekerasan di media sosial telah memungkinkan siapa pun, termasuk individu-individu belia, melakukan indoktrinasi terhadap diri mereka sendiri," katanya kepada Okezone, Selasa (30/8/2016).

Reza menuturkan bahwa melalui indoktrinasimandiri, para pelaku teror tidak perlu lagi mendatangi kelompok-kelompok paham radikalisme. Sebaliknya, pelaku itu sendiri yang mengambil prakarsa untuk mendekatkan diri sendiri ke kelompok-kelompok tersebut.

"Dengan kecerdasan yang orang-orang muda usia miliki, mereka tidak lagi terlalu membutuhkan instruktur guna memberikan pelatihan tentang keahlian teror," lanjutnya.

Reza menjelaskan bahwa tutorial merakit bom dan modus-modus teror lain sudah tersedia secara gratis di internet.oleh karenanya, Reza tidak memungkiri tingginya angka pelaku kejahatan yang melancarkan aksi pertamanya pada usia sangat muda. Pelibatan anak-anak muda dalam kelompok teror juga merupakan bukti mudahnya teknologi membuat anak muda mudah melakukan aksi teror.

"Dahulu dikenal ungkapan 'demokrasi bermula di meja makan'. Kini nyaring bunyi kredo lain, ‘Kebrutalan atas nama kebenaran dan kejayaan adalah keagungan’. Ajaran maut itu mengalir ke setiap bulir darah sosok-sosok mungil tak berdosa yang berloncatan di sekeliling kita," pungkas dia.

(Rachmat Fahzry)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement