TIMIKA - Bupati Asmat Elisa Kambu dan Uskup Agats-Asmat Mgr. Aloysius Murwito OFM secara resmi membuka Pesta Budaya Asmat ke-31 tahun 2016. Pembukaan ini ditandai dengan memberikan percikan kapur putih pada peserta Pesta Budaya Asmat di Lapangan Yos Sudarso, Jalan Yos Sudarso, Distrik Agast, Kabupaten Asmat, Papua, Jumat (7/10/2016).
Usai memberkati para peserta, Pesta Budaya Asmat dilanjutkan dengan pawai budaya mengelilingi kota Agats, dengan diiringi tari-tarian adat khas masyarakat Asmat.
Ketua Panitia Pesta Budaya Asmat ke-31, Emerickhus Sarkol dalam sambutannya mengatakan, Pesta Budaya Asmat tahun ini diikuti sebanyak 457 seniman yang terdiri dari 207 orang pengukir, 60 orang penganyam, tujuh kelompok penari yang berjumlah 102 orang, dan 17 perahu dengan jumlah 88 orang.
“Selaku ketua panitia penyelenggara, saya mengajak kita semua untuk menjadikan pesta akbar Budaya Asmat ini sebagai kesempatan istimewa, untuk tetap berpijak pada Jew atau rumah adat suku Asmat, yang mana sebagai kunci jati diri kita dalam melindungi dan melestarikan nilai-nilai luhur budaya Asmat demi anak cucu,” kata dia.
Sementara Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito OFM mengatakan, jika diamati secara saksama, ukiran yang dipamerkan dalam Pesat Budaya Asmat sangat luar biasa dan sangat mengagumkan. Dimana, sebuah misteri dibuka lewat sebatang kayu yang sudah dibuang tetapi malah diciptakan sedemikian rupa sehingga menjadi berarti.
“Selain itu, lagu-lagu serta gerakan tariannya juga mengungkapkan ekspresi isi hati. Dimana, pikiran dari saudara-saudara kita yang mau menyampaikan dan mencurahkan isi hati dan pikiran juga pandangan mereka,” ujar Aloysius sebelum memberkati peserta.
Untuk itu, dia berpesan kepada para wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang menyaksikan Pesata Budaya Asmat ini, agar dapat menghargai karya seni masyarakat suku Asmat yang agung dan indah ini. “Dengan menghargai maka kita kemudian bisa mengubah sikap pandangan kita terhadap orang Asmat,” tuturnya.
Aloysius menambahkan, Pesta Budaya ini dapat mengangkat kesetaraan dari masyarakat asli suku Asmat. Selain itu, menjadi satu kesempatan untuk belajar dan menggali lebih dalam makna-makna yang terkandung dalam pahatan-pahatan kayu, dalam seni lagu, dan gerak tari. Sebab, disitu terkandung sesuatu yang tidak hanya sepintas terlihat, tetapi jauh lebih dalam terdapat suatu nilai yang dilihat.
“Event seperti sekarang ini menjadi satu kesempatan untuk kita semua belajar lebih dalam nilai-nilai saudara kita orang Asmat melalui seni mereka,” jelas dia.
Sementara itu, Bupati Asmat, Elisa Kambu mengapresiasi pengunjung, baik domestik maupun mancanegara yang hadir untuk menyaksikan Pesta Budaya Asmat ini.
“Kita semua yang hadir di tempat ini merupakan bukti nyata kita, bahwa kita ada di sini untuk pertama, menghargai karya-karya luar biasa yang Tuhan titipkan hanya di Asmat, tidak didapatkan di belahan dunia lain. Kedua kita semua yang datang kesini baik saudara yang datang dari luar negeri, pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten sendiri, ini merupakan bukti kita untuk berkewajiban mendukung apa yang Tuhan kasih untuk masyarakat di Asmat,” tuturnya.
Elisa menjelaskan, lewat Pesta Budaya Asmat ini peserta bisa mengekspresikan semua kemampuan dan perasaan yang mereka miliki dan rasakan, hingga pada penutupan lelang yang akan dilaksanakan menjelang akhir kegiatan Pesta Budaya Asmat nanti.
“Ini momentum yang harus dimanfaatkan untuk meyakinkan masyarakat lokal di sini, bahwa ini sesuatu yang luar biasa dan wajib, juga mutlak dipertahankan, wajib dan mutlak harus dilestarikan,” kata dia.
(Feri Agus Setyawan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.