nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

HISTORIPEDIA: 95 Dalil Martin Luther Awali Reformasi Protestan

Silviana Dharma, Jurnalis · Senin 31 Oktober 2016 08:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2016 10 31 18 1528465 historipedia-95-dalil-martin-luther-awali-reformasi-protestan-IX9aUukxEK.jpg Ilustrasi.(Foto: American Faith)

HARI ini pada 1517 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi seluruh umat Kristen Protestan. Sebab pada hari inilah, tata cara gereja Katolik mendapatkan kecaman terhebatnya. Martin Luther.

Dia adalah seorang professor teologi sekaligus pendeta di Jerman memprotes keras praktik sakramental pertobatan dan surat pengampunan dosa oleh para Paus dan Pastur. Menurutnya, pengakuan dosa tak lantas menyucikan kembali seorang manusia di dunia. Baginya, hanya Allah hakim agung yang layak memutuskan perkara tersebut.

Itulah mengapa, Luther 499 tahun yang lalu datang ke muka Castle Church di Wittenberg, Jerman. Lalu memantek selembar makalah yang berisi 95 dalil revolusi. Di kemudian hari, surat protes panjangnya itu dikenal dengan nama 95 Dalil Martin Luther yang mengawali Reformasi Kristen Protestan.

“Tuhan dan Guru kita Yesus Kristus, ketika Ia mengucapkan ‘Bertobatlah’, dan seterusnya, menyatakan bahwa seluruh hidup orang-orang percaya harus diwarnai dengan pertobatan. Kata ini tidak boleh diartikan mengacu kepada hukuman sakramental, yakni berkaitan dengan proses pengakuan dan pelepasan dosa yang diberikan oleh imam-imam yang dilakukan di bawah pelayanan imam-imam,” demikian Luther bicara melalui dua poin pertamanya.

Dilansir dari History, Senin (31/10/2016), Luther antara lain juga mengkritisi ekses dan praktik korupsi dalam Gereja Katolik Roma, khususnya soal Paus yang meminta bayaran yang disebut indulgensi atau pengampunan dosa.

Kala itu, seorang imam Dominika bernama Johann Tetzel terlibat dalam kampanye penggalangan dana besar-besaran di Jerman. Uang itu katanya untuk membiayai perbaikan Gereja Basilika Santo Petrus di Roma. Imam tersebut diketahui menjalankan tugas yang dianggapnya mulia itu atas pertintah Uskup Agung Mainz dan Paus Leo X.

Padahal, Pangeran Frederick III yang terkenal bijaksana telah melarang penjualan indulgensi di Wittenberg. Meski begitu, tetap saja banyak umat Katolik yang rela menempuh perjalanan dan mengantre untuk membeli surat penebusan dosa tersebut.

Ketika jemaat-jemaat mendapatkan surat yang diagung-agungkan dapat menyucikan mereka dari api neraka itu, mereka datang ke hadapan Luther dan dengan bangga memamerkannya. Mereka berkata, tak perlu lagi kami melakukan pertobatan atas dosa-dosa kami karena sudah ada surat pengampunan dosa ini.

Surat itu seolah menjadi alat untuk membeli jalan ke surga tanpa perlu menjalankan hukum kasih Kristus di dunia. Luther melihatnya tak lain sebagai cara manusia untuk menyogok Tuhan. Keputusasaan Luther kemudian dituangkan dalam 95 dalil yang ditulis dalam bahasa Latin. Salinannya kini diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan pada perkembangannya sudah didistribusikan secara luas.

Dengan ditempelkannya protes panjang itu di pintu gereja, tak lantas menyelesaikan masalah. Pada 1521, gara-gara pendapatnya tersebut, Paus Leo X mengucilkan Luther dari Gereja Katolik. Masih pada tahun yang sama, Luther kembali menolak untuk mengakui kesalahan dalam risalahnya.

Penolakan untuk mencabut protesnya itu terjadi sebelum Kaisar Romawi Suci Charler V dari Jerman mengeluarkan dekrit yang terkenal dari Worms. Ia menyatakan, Luther adalah penjahat dan memberi izin kepada setiap orang untuk membunuhnya tanpa konsekuensi.

Untunglah, Luther mendapat perlindungan dari Pangeran Frederick III yang Bijaksana. Di bawah naungan sang pangeran, Luther mulai bekerja untuk menerjemahkan alkitab ke dalam bahasa Jerman. Hal ini dia lakukan agar semua orang dapat mengerti dan menyelami kitab suci itu tanpa menunggu penafsiran dari gereja. Tugas itu diselesaikannya dalam waktu 10 tahun.

Sepanjang hidupnya, Luther yang memilih bertindak daripada diam saja pada kebusukan Gereja Katolik telah memberikan sumbangsih besar pada peradaban umat Kristen Protestan. Selain membuat terjemahan Alkitab, Luther menggebrak tradisi Gereja Katolik yang melarang pastur menikah.

Luther ingin gereja kembali kepada ajaran alkitab. Pendeta Jerman ini pun menikahi Katharina von Bora pada 13 Juni 1525.

Sementara itu, istilah ‘Protestan’ sendiri baru mulai digunakan pada 1529. Ketika Kaisar Charles V mencabut ketentuan yang memungkinkan penguasa masing-masing negara bagian di Herman memilih antara mereka akan menegakkan Titah Worms atau tidak.

Sejumlah pangeran dan pendukung Luther menyerukan protes, menyatakan bahwa kesetiaan mereka kepada Tuhan semata dan menuding kesetiaan oposisinya kepada Tuhan palsu, yakni si Kaisar. Sejak saat itu, lawan-lawannya mengenal pihak Luther ini sebagai Protestan.

Perlahan tapi pasti, nama ini diberlakukan untuk semua umat yang percaya bahwa Gereja harus direformasi. Bahkan istilah ini disematkan kepada jemaat di luar Jerman.

Pada saat Luther meninggal, karena sebab alamiah, pada 1546, keyakinan revolusioner telah membentuk dasar untuk Reformasi Protestan. Peninggalannya itu selama tiga abad berikutnya merevolusi peradaban Barat

1 / 3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini