Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Brexit dan Trumpism Jadi Word of The Year 2016

Silviana Dharma , Jurnalis-Kamis, 17 November 2016 |09:01 WIB
<i>Brexit</i> dan <i>Trumpism</i> Jadi <i>Word of The Year 2016</i>
Ilustrasi. Popularitas {Brexit} dan {Trumpism}.
A
A
A

FENOMENA keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa menjadi satu di antara sekian banyak isu internasional yang paling disoroti selama setahun terakhir. Kesahihan Negeri Ratu Elizabeth untuk angkat kaki dari organisasi kerjasama antarnegara Benua Biru itu kemudian dikukuhkan melalui referendum demokratis.

Ada dua pilihan yang dicantumkan pada kertas suara referendum pada 23 Juni 2016. Remain, yang berarti memilih tetap berada dalam lingkup UE atau Brexit (Britain Exit), yang memberikan kesempatan bagi Inggris Raya berdikari tanpa topangan UE.

Jajak pendapat pra-referendum menunjukkan persaingan ketat. Namun tanpa diduga, hasil perhitungan suara menyatakan sebagian besar rakyat Inggris tak lagi betah satu atap dengan UE.

Gara-gara itu, Kamus Collins yang dipublikasikan oleh HarperCollins di Glasgow, Inggris menobatkan istilah Brexit sebagai kata terpopuler atau Word of The Year 2016. Kata tersebut menjadi yang paling banyak dicari di mesin pencari seperti Google, dan kawan-kawan, serta marak diberitakan di media massa hingga menjadi buah bibir masyarakat, terlepas dari segala polemik yang ditimbulkannya.

Istilah kedua paling mendunia tahun ini adalah Trumpism. Kata tersebut menjadi terkenal berkat pencalonan Donald Trump oleh Republik. Frasa itu menjadi kian beken tatkala pria 70 tahun tersebut dinyatakan menang pilpres AS pada 8 November 2016.

Menurut kamus Collins, Trumpism memiliki dua arti. Pertama, kebijakan-kebijakan yang diusung oleh politikus AS Donald Trump, khususnya terkait penolakan terhadap pendirian politik terkini (era Obama) dan kegencarannya mengejar kepentingan nasional AS.

Definisi kedua, Trumpism berarti suatu pernyataan kontroversial atau keterlaluan yang berhubungan dengan Donald Trump.

Selain Brexit dan Trumpism, Collins Dictionary juga merilis sembilan kata kunci baru paling populer sepanjang tahun ini di situsnya. Frasa-frasa baru tersebut meliputi, Hygge, mic drop, throw shade, sharenting, snowflake generation, dude food, uberization dan JOMO.

Hygge adalah konsep hidup yang dianut warga Denmark. Cirinya adalah menciptakan atmosfer yang nyaman dan ramah yang mempromosikan kesejahteraan.

Istilah mic drop diperkenalkan oleh Presiden Barack Obama yang menjatuhkan mikrofonnya saat mengakhiri pidato. Sementara throw shade didefinisikan sebagai cara membuat acara public untuk seseorang atau sesuatu, seringnya dengan cara yang halus atau non-verbal.

Sharenting adalah kebiasaan orang-orang menggunakan media sosial untuk berbagi momen penting anak, termasuk menyebarkan tautan berita, gambar-gambar dan sebagainya tentang seorang anak.

Generasi Butiran Salju atau Snowflake Generation ialah pemuda dewasa era 2010-an yang dipandang kurang ulet dan mudah tersinggung dibandingkan generasi sebelumnya. Dude Food merujuk pada makanan cepat saji, seperti hot dogs, burger dan lain-lain yang menarik bagi kaum pria.

Uberization adalah adopsi model bisnis yang pelayanannya menawarkan tuntutan komunikasi antara pelanggan dan pemasok, biasanya menggunakan gadget.

JOMO adalah singkatan dari Joy of Missing Out. Yang berarti kesenangan yang diperoleh dari menikmati kegiatan seseorang tanpa mengkhawatirkan orang lain itu merasakan kesenangan juga atau tidak.

(Silviana Dharma)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement