Brexit Mengubah Pertemanan Denmark dengan Inggris

Silviana Dharma, Okezone · Selasa 22 November 2016 20:22 WIB
https: img.okezone.com content 2016 11 22 18 1548517 brexit-mengubah-pertemanan-denmark-dengan-inggris-4ACA3Q89Ra.jpg PM Inggris dan PM Denmark. (Foto: Euro News)

KOPENHAGEN – Mantan Menteri Luar Negeri Denmark, Martin Lidegaard mengungkap, Brexit telah mengubah hubungan negaranya dengan Inggris. Ia memastikan ketika dua negara yang bersekutu dekat ini bertemu di meja perundingan, Denmark akan lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya dibandingkan pertemanan.

“Kami lebih baik bersikap egois. Brexit telah mengubah segalanya. Alih-alih menekankan pada manfaat bersama, kami akan masuk ke permainan di mana kami semua akan terlihat egois dan berpikiran sempit,” terangnya, seperti dilansir dari Business Insider, Selasa (22/11/2016).

Hubungan baik antara Denmark dan Inggris Raya telah dibangun sejak abad 19. Mereka bertarung bersama dalam operasi memberantas terorisme dan radikalisme di Irak dan Afghanistan. Sama-sama menjadi anggota NATO dan Uni Eropa. Serta berbagai perdagangan yang saling bergantung.

Namun kali ini, negara kecil di Eropa Utara itu memilih untuk berpihak kepada Uni Eropa daripada memenangkan negosiasi untuk sahabatnya. Menurutnya, ini adalah salah satu konsekuensi yang harus diterima Inggris atas keputusannya memisahkan diri.

“Secara politik kami diminta beramah tamah dengan Inggris dan tidak menghukumnya. Mereka bilang perceraian ini harus berjalan dengan tenang, tetapi ketika kita tilik isunya di sini. Jelas, tidak ada untungnya bagi kami untuk membantu dan bersikap bersahabat dengan Inggris,” tambahnya.

Pendapat senada terus disuarakan oleh Menlu Denmark saat ini, Kristian Jensen. Dia juga meyakini bahwa Inggris tidak seharusnya mendapatkan peluang pasar tunggal yang sama seperti saat bergabung dengan UE.

Dengan keluarnya Inggris dari UE, negara itu juga tidak lagi memiliki kewajiban untuk membayar biaya kolektif ke organisasi. Tetapi jika privilage yang sama masih mereka dapatkan, hal ini akan memicu negara-negara lain untuk angkat kaki dari UE.

“Setelah mempertimbangkan semua itu, kami memutuskan bahwa yang penting di sini bukan apa yang baik dan buruk untuk Inggris, tetapi apa yang terbaik bagi Denmark. Kami harus memutuskan yang terbaik demi melindungi sumber terbesar kemakmuran negara, yakni Pasar Tunggal, dalam jangka panjang,” timpal Jensen.

Jensen menambahkan, “Anda tidak bisa meremehkan dinamikanya. Denmark adalah negara yang berpolitik terbuka, perdagangan terbuka, serta ingin terhubung dengan dunia. Kami butuh ekspor dan pasar terbuka. Kehilangan atau terancam kehilangan hal tersebut dapat membawa dampak besar pada perekonomian dan politik kami.”

Keputusan Inggris untuk bercerai dari organisasi kerjasama terbesar di Benua Biru faktanya tidak hanya penting bagi negara tersebut, tetapi sudah menjadi persoalan seluruh Uni Eropa dan negara-negara anggotanya. Saat ini Perdana Menteri Inggris Theresa May terhambat oleh parlemennya sendiri. Rencananya untuk membawa Inggris meluncur keluar dengan mulus tepat pada waktunya juga masih menjadi misteri.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini