INDONESIA sepanjang 2016 banyak dilanda bencana alam. Satu di antaranya gempa 6,5 skala Richter (SR) yang mengguncang Aceh pada Rabu 7 Desember. Sedikitnya 104 orang meninggal dunia dan 700 orang lainnya luka-luka. Inilah bencana paling banyak merenggut korban jiwa tahun ini.
BMKG mencatat gempa terjadi sekira pukul 05.03 WIB berpusat di darat Kabupaten Pidie Jaya atau 106 kilometer arah Kota Banda Aceh tepatnya di koordinat 5,25 lintang utara dan 96,24 bujur timur. Gempa dengan kedalaman 15 Km itu tak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
Warga yang masih tertidur menjelang subuh itu berhamburan keluar rumah. Masyarakat yang tinggal dekat pantai Pidie Jaya langsung berlarian mencari tempat lebih tinggi karena khawatir tsunami. Mereka umumnya pernah merasakan tsunami pada 26 Desember 2004.
Kepanikan warga makin menjadi-jadi karena listrik di Pidie Jaya padam saat terjadinya gempa. Dalam kegelapan subuh, mereka terus berzikir dan bermunajat agar terlindung dari bala.
Banyak warga tertimpa reruntuhan bangunan dan terjebak. Satu di antaranya adalah Zubaidah (25) warga Gampong Blang Baroh, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Ia masih trauma saat menceritakan detik-detik gempa 6,5 SR yang dialaminya.
(foto Rayful/Okezone)
Saat itu, Zubaidah bersama suami Teungku Mahdi (34) dan anak bungsunya Nafisatul berusia 11 bulan masih terlelap di kamar rumahnya. Anaknya yang lain Khairani Miskya (5) dan Anjali tidur di kamar lain.
Mereka terbangun saat bumi mengguncang hebat dan berupaya menyelamatkan diri. Saat hendak ke luar, tiba-tiba rumah mereka runtuh. Mereka terjebak dan tertimpa reruntuhan.
Warga yang sadar rumah Teungku Mahdi roboh sontak berlarian memindahkan pecahan material dinding rumah.
“Saya peluk Nafisatul, Alhamdulillah dia tidak luka apa-apa,” kata Zubaidah kepada Okezone di posko pengungsian darurat, Dusun Baroh, Gampong Baroh, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, Sabtu 10 Desember 2016.
(Baca juga: Kisah Korban Selamat dari Reruntuhan Rumah Usai Gempa 6,5 SR)
Sementara dari kamar lain, Khairani berteriak histeris saat sadar tak bisa bergerak, terjebak reruntuhan. Di antara seluruh keluarganya, gadis belia itu paling terakhir diselamatkan. Pasalnya, keberadaannya saat itu paling sulit ditemukan.
Zubaidah merupakan satu dari ratusan ribu warga Pidie Jaya yang selamat dari gempa 6,5 SR. Gempa itu dirasakan hampir di seluruh Aceh, tapi paling parah di tiga kabupaten yakni Pidie Jaya, Pidie, dan Bireun.
Evakuasi korban gempa di Pidie Jaya (Antara)
Banyak cerita miris dan mengharukan muncul dari gempa. Mulai orang yang kehilangan keluarga, anggota tubuh, gagal nikah, hingga aksi heroik menyelamatkan diri.
BNPB mencatat 104 orang meninggal dunia akibat gempa 6,5 SR di Aceh. Dua orang di Pidie, lima di Bireun. Selebihnya di Pidie Jaya. Mereka umumnya tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh. Korban luka 700 orang; 168 luka berat da 532 luka ringan.
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebutkan, gempa juga merusak 19.130 rumah warga di Pidie Jaya, Pidie, dan Bireun. Terdiri dari 2.554 rusak berat, 2.361 rusak sedang, dan 14.215 rusak ringan. Berikutnya 64 masjid, 88 meunasah, 14.800 meter jalan serta 55 jembatan juga rusak.
Warga yang mengungsi akibat gempa mencapai 83.838 orang yakni di Pidie Jaya sebanyak 82.122 orang yang tersebar di 120 titik dan Bireun 1.716 orang.