Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

KALEIDOSKOP 2016: Gempa Aceh, Duka Indonesia

Salman Mardira , Jurnalis-Jum'at, 30 Desember 2016 |19:04 WIB
KALEIDOSKOP 2016: Gempa Aceh, Duka Indonesia
Pengenda melintas di antara bangunan rusak akibat gempa di Pasar Meureudu, Pidie Jaya (Antara)
A
A
A

Gempa 6,52 SR di Aceh yang menghiasi media nasional dan mancanegara mengundang keprihatinan dan solidaritas. Warga dari berbagai pelosok nusantara bersatu tanpa membedakan ras, suku, dan agama, menggalang bantuan untuk Aceh. Bantuan juga datang dari luar negeri seperti Jepang dan Malaysia. Tercatat 121 organisasi non pemerintah membantu Aceh pascagempa.

Banyaknya korban jiwa dan parahnya tingkat kerusakan membuat pemerintah memberlakukan masa tanggap darurat gempa Aceh selama 14 hari hingga 20 Desember 2016. Dilanjutkan dengan masa transisi selama 90 hari.

(Baca juga: Pascagempa Aceh, Pemerintah Tetapkan Masa Transisi 90 Hari)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut berduka atas bencana itu. Ia langsung memimpin rapat penanganan gempa. Bukan saja memerintah di balik meja, Jokowi juga turun langsung ke Aceh. Ada dua kali ia mengunjungi korban gempa di Pidie, Pidie Jaya, dan Bireun, masing-masing pada 9 dan 15 Desember 2016. Sejumlah pejabat penting negara juga bertandang ke Aceh.

Pembersihan puing reruntuhan gempa di Pidie Jaya (Antara)

Pemerintah memperkirakan kerugian dan kerusakan materil akibat gempa Aceh mencapai Rp3,5 triliun lebih. Presiden Jokowi memutuskan penanganan rehabilitasi Aceh pascagempa 6,5 SR ditangani pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Gempa 6,5 SR yang berpusat di Pidie Jaya pada 7 Desember lalu merupakan gempa paling merusak dari 5.578 kali gempa yang terjadi di Indonesia sepanjang 2016. Tahun ini BNPB mencatat, setiap bulan rata-rata 460 kali gempa terjadi di Tanah Air dengan 12 di antaranya merusak.

Presiden Jokowi menghibur anak-anak korban gempa di Pidie Jaya (Antara)

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho‎ mengatakan, banyaknya kerusakan akibat gempa di Pidie Jaya selain karena pusatnya di darat dan dangkal juga dipicu akibat kualitas bangunan yang masih rendah dan belum ramah bencana.

"Kerusakan (bangunan) paling banyak terjadi karena tak ada penguat di pondasi sikunya. Kemudian minim pengetahuan masyarakat tentang rumah anti-gempa," katanya.

Gempa di Pidie Jaya juga menegakan masih banyak sumber gempa di daratan Indonesia yang belum teridentifikasi. Harian Kompas edisi 24 Desember 2016 menulis, sesar Pidie Jaya termasuk satu dari 281 patahan darat aktif baru yang akan ditambah dalam peta kegempaan nasiona.

Ahli gempa menyebutkan bahwa lindu berkekuatan 6,5 SR di Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 terjadi di luar jalur sesar utama yang belum terindentifikasi sebelumnya.

 

(Salman Mardira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement