PADA 2 Januari 1492, penguasa Muslim terakhir di Granada yakni Emir Muhammad XII menyerah kepada pasukan Spanyol yang dipimpin Isabella I dari Castile dan Ferdinand II dari Aragon. Peristiwa ini mengakhiri Perang Granda dan menutup Reconquista atau penaklukan kembali Semenanjung Iberia dengan kemenangan pasukan Kristen atas Kerajaan Muslim Moor.
Emirat Granada merupakan negara Muslim terakhir di Iberia selama lebih dari 200 tahun saat Perang Granada diumumkan pada 1482. Kerajaan yang dipimpin Dinasti Nasrid itu adalah sisa-sisa dari keagungan Kekhalifahan Cordoba yang terpecah pada 1031.
Granada sebenarnya sebuah Emirat yang makmur dan kuat pada zamannya. Tetapi setelah meninggalnya Emir Yusuf III pada 1417, terjadi perebutan kekuasaan yang memicu perang sipil yang berlangsung terus-menerus antarklan. Keadaan ini tentu saja melemahkan kerajaan tersebut, baik dari segi ekonomi maupun kekuatan militer.
Pada 1482, dua kerajaan kuat Kristen yaitu Castile yang dipimpin oleh Isabela I dan Aragon yang dipimpin Ferdinand II mengumumkan perang terhadap Granada. Perang ini dipicu pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Emir Granada Abu I Hasan al Ali ke Zahara pada Desember 1481.
Di awal perang, kekuatan kedua belah pihak terlihat seimbang dengan kemenangan yang diraih secara bergantian. Namun setelah Abu Abdallah atau yang juga dikenal sebagai Boabdil memberontak terhadap ayahnya Emir Abu Hasan pada 1482, situasi memburuk untuk pihak Granada. Boabdil mengangkat dirinya sebagai emir bergelar Muhammad XII dan berperang dengan pasukan ayahnya dan pasukan Spanyol.