Image

Inggris, Yunani dan Turki Bahas Siprus di Konferensi Jenewa

Agregasi Antara, Jurnalis · Jum'at, 13 Januari 2017 - 02:02 WIB
Presiden Siprus Yunani, Nicos Anastasiades (kiri) dan Penasihat Khusus PBB di Siprus, Espen Barth Eide (kanan). (Foto: AP) Presiden Siprus Yunani, Nicos Anastasiades (kiri) dan Penasihat Khusus PBB di Siprus, Espen Barth Eide (kanan). (Foto: AP)

JENEWA - Para menteri luar negeri Inggris, Yunani dan Turki melakukan pertemuan pada Kamis 12 Januari 2017 waktu setempat. Mereka bermaksud membicarakan kesepakatan keamanan bagi penyatuan Siprus.

Pembicaraan juga diharapkan dapat mengakhiri konflik yang mengakar di negara bekas jajahan Inggris itu, serta menyelesaikan persaingan antara Yunani dan Turki di wilayah tersebut.

Ini merupakan pertemuan yang terjadi untuk pertama kalinya dalam berpuluh-puluh tahun bagi ketiga negara tersebut. Agenda pembahasan akan berpusar soal perjanjian yang dibuat pada 1960. Perjanjian itu telah disahkan oleh setidaknya salah satu dari mereka pada masa lalu sebagai dasar untuk mencampuri kedaulatan negara pulau di Mediterania tersebut.

Kelompok penduduk Siprus keturunan Yunani beserta negara sekutu mereka, Yunani, menginginkan perubahan pengaturan keamanan yang sedang berlaku saat ini. Di sisi lain, rakyat Siprus keturunan Turki beserta Turki mengatakan pengaturan yang sudah ada harus dipertahankan.

"Melanjutkan pengaturan dan penjaminan keamanan yang telah menjadi dasar bagi keamanan dan stabilitas di pulau itu selama lebih dari 43 tahun perlu dilakukan mengingat keadaan di wilayah tersebut," kata Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu dalam jumpa pers di markas besar Perserikatan Bangsa-bangsa di Jenewa, Swiss, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (13/1/2017).

Katanya lagi, "Kami berharap masalah ini dievaluasi sesuai dengan keadaan pulau itu."

Siprus terpecah saat Turki masuk pada 1974, tak lama setelah kudeta militer rancangan Yunani terjadi. Sejak itu, Siprus tetap terbagi. Kelompok penduduk Siprus keturunan Turki tinggal di wilayah utara sementara Siprus-Yunani di selatan.

Perundingan ketiga negara ini dimediasi dalam Konferensi Jenewa yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal PBB yang baru, Antonio Guterres. Pembicaraan soal Siprus sendiri merupakan keterlibatan besar Guterres yang pertama terkait konflik yang telah menjadi agenda PBB selama lebih dari setengah abad.

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker juga hadir. Siprus merupakan anggota Uni Eropa dan diwakili di dunia internasional oleh pemerintahan Siprus-Yunani.

Penemuan hidrokarbon baru-baru ini di perairan Siprus bisa membantu Uni Eropa mengurangi ketergantungan pasokan energi dari Rusia.

Siprus-Yunani menginginkan sistem penjamin dihapuskan karena invasi Turki pada 1974. Siprus-Turki, yang diincar para nasionalis Siprus-Yunani sebelum perang, menginginkan Turki tetap menjadi penjamin keamanan.

(Sil)

Bagikan Artikel Ini

Berita Rekomendasi

Siprus
Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming