nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pembunuh Berantai Pertama Siprus Akui Habisi Lima Perempuan dan Dua Anak-Anak

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 24 Juni 2019 19:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 24 18 2070363 pembunuh-berantai-pertama-siprus-akui-habisi-lima-perempuan-dan-dua-anak-anak-2IlTD4kF9u.jpg Ilustrasi.

NIKOSIA - Seorang kapten angkatan bersenjata Siprus mengaku bersalah atas pembunuhan lima perempuan dan dua anak-anak selama tiga tahun aksi pembunuhan yang terungkap secara tidak sengaja oleh pihak berwenang. Dia menjadi warga negara Siprus pertama yang diadili sebagai pembunuh berantai.

Nikos Metaxas, 35 tahun, dibawa ke pengadilan Nikosia di bawah pengamanan ketat dengan pandangan menatap ke bawah ketika jaksa membacakan serangkaian tuduhan, termasuk penculikan dan pembunuhan lima perempuan dan dua putri mereka, yang berusia enam dan delapan tahun, dari Filipina, Rumania, dan Nepal.

Metazas, yang diyakini sebagai pembunuh berantai pertama Siprus, menangis saat surat dakwaan dibacakan.

“Masyarakat Siprus akan bertanya-tanya bagaimana salah satu anggotanya mencapai titik ini. Saya juga bertanya pada diri sendiri mengapa; Saya belum berhasil menemukan jawaban, ” kata Metaxas sebagaimana dilansir Evening Standard, Senin (24/6/2019).

"Saya telah melakukan kejahatan penuh kebencian."

Polisi mengatakan Metaxas bertemu perempuan-perempuan itu secara online. Para korban sebagian besar dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di pulau itu dan menghilang antara September 2016 dan Agustus 2018.

Kasus ini memicu kemarahan dan ketakutan di sebuah pulau di mana kejahatan serius relatif jarang terjadi.

Kepala polisi dipecat dan menteri kehakiman mengundurkan diri menyusul laporan investigasi ceroboh oleh polisi. Pihak berwenang dilaporkan tidak menganggap serius hilangnya para korban karena mereka adalah orang asing.

Korban pertama ditemukan tewas oleh turis yang mengambil gambar di lorong penambangan pada akhir April, mengungkap peristiwa pembunuhan yang mengerikan itu. Korban terakhir yang ditemukan, seorang anak berusia enam tahun, ditemukan di sebuah danau pada 12 Juni.

Metaxas menghadapi tujuh hukuman seumur hidup yang kemungkinan akan diputuskan hari ini.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini