Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tukang Parkir Berhati Mulia, Rela Rawat Anak-Anak dengan HIV/AIDS

Agregasi Jawapos.com , Jurnalis-Jum'at, 03 Februari 2017 |15:34 WIB
Tukang Parkir Berhati Mulia, Rela Rawat Anak-Anak dengan HIV/AIDS
Puger Mulyono bersama dengan anak-anak dengan HIV/AIDS yang dirawatnya (Foto: Andra Nur Oktaviani/Jawa Pos)
A
A
A

’’Kehujanan itu paling tidak boleh dialami anak-anak. Air hujan itu jahat. Sekali kehujanan, tidak perlu menunggu besok, saat itu langsung demam. Kalau sudah begitu, bahaya. Harus dirawat di rumah sakit,’’ tegasnya.

Karena itu, selain memberikan obat ARV secara rutin kepada ADHA, Puger memberikan suplemen untuk meningkatkan kekebalan tubuh mereka. Menurut dia, hal tersebut dilakukan sebagai ikhtiar untuk menjaga kesehatan anak-anak. Di rumah kontrakan Puger, terdapat sekotak penuh obat-obatan dan suplemen vitamin.

Untuk tempat tinggal, Puger selama ini memang masih mengontrak dan harus bersiap pindah jika sewaktu-waktu warga kembali mengusir mereka atau mereka yang tidak sanggup membayar ongkos kontraknya. Padahal, sebenarnya Pemerintah Kota Surakarta sudah memberi Puger tempat yang bisa dimanfaatkan untuk mengurus anak-anak malang tersebut. Pemkot pernah memberi Puger sebuah rumah di kawasan Setabelan. Namun, warga menolak Puger dan anak-anaknya.

’’Pemkot lalu memberi tempat lain. Lokasinya di utara Monumen Pers. Baru selesai seremoni serah terima, kami sudah didatangi warga. Mereka protes dan mengusir kami. Saya bisa apa?’’ ungkap Puger.

Penolakan juga terjadi di sekolah anak-anak ADHA. Saat mendaftarkan anak-anak sekolah, Puger memang tidak memberi tahu bahwa mereka adalah ADHA. Dia sadar, sekali berkata jujur soal itu, anak-anaknya sudah bisa dipastikan akan putus sekolah. Tidak ada sekolah yang mau menerima anak-anak dengan kondisi seperti itu. Jika ada, belum tentu orang tua siswa menerima ’’anak-anak’’ Puger tersebut.

’’Jadi, slogan ’jauhi virusnya bukan orangnya’ itu pada praktiknya tidak ada. Tetap saja mereka dikucilkan. Bahkan oleh sekolah. Untungnya ada satu sekolah yang mau menerima mereka,’’ ungkap Puger.

Yang membuat Puger tidak habis pikir, ada sebuah rumah sakit yang menolak anak-anaknya untuk berobat. Tapi, kali ini dia tidak mau tinggal diam. Dia siap berjuang habis-habisan. Sebab, kondisi anak-anak itu sangat bergantung pada rumah sakit. Jika rumah sakit menolak, apa jadinya anak-anak tersebut?

Puger lalu melayangkan surat protes kepada manajemen rumah sakit tersebut. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa penolakan tersebut bukan karena mereka memilih-pilih pasien. Tapi, saat itu mereka belum mampu menangani. Dokter dan perawat rumah sakit tersebut belum berkompeten menangani pasien dengan HIV/AIDS.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement