SOLO – Berbuat baik terhadap sesama memang idealnya tak pandang bulu dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Bahkan oleh mereka yang hidupnya terhitung pas-pasan. Seperti yang dilakukan oleh Puger Mulyono yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang parkir.
Hati Puger Mulyono terbilang sangat mulia. Dengan segala keterbatasan, ia rela mendedikasikan diri untuk merawat anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang dikucilkan, bahkan oleh keluarga mereka sendiri.
Teriknya matahari Solo, Rabu, 1 Februari 2017, tidak lantas membuat Puger bermalas-malasan. Dengan sigap, pria 42 tahun itu membantu orang-orang memarkirkan kendaraan mereka di depan kantor Indosat di kawasan Purwosari, Solo.
Sehari-hari, Puger memang bekerja sebagai tukang parkir. Sebelum menjadi tukang parkir, dia bekerja sebagai tukang tambal ban di lokasi yang sama. “Tapi, kena gusur karena ada pembuatan taman. Akhirnya, saya beralih profesi jadi tukang parkir di sini,’’ cerita Puger ketika ditemui jawapos di tempat kerjanya, Rabu siang.
Puger bekerja sejak pagi hingga sore sebagai juru parkir. Di sela pekerjaannya, dia menyempatkan diri untuk menjemput anak-anak yang tinggal di Rumah Lentera dari sekolah mereka.
Dari pekerjaannya sebagai tukang parkir, Puger mengantungi Rp50 ribu setiap hari. Bukan pendapatan yang besar karena Puger harus menghidupi istri, empat anak kandung, serta anak-anak Rumah Lentera yang berjumlah 11 orang. Belum lagi ditambah tiga pengasuh yang juga tinggal di Rumah Lentera.
Jika dihitung-hitung, pendapatan Puger sebagai tukang parkir hanya Rp1,5 juta sebulan. Itu pun jika setiap hari dia bekerja. Sementara itu, kebutuhan keluarganya dan Rumah Lentera bisa sampai Rp10 juta sebulan. Bahkan, kadang lebih dari itu.
Misalnya, Januari lalu, pengeluaran pribadi Puger dan Yayasan Rumah Lentera yang mengurusi anak-anak dengan HIV/AIDS mencapai Rp13 juta. Sebab, ada anak asuhnya yang harus diopname di rumah sakit. Meski begitu, kondisi serba kekurangan tersebut tidak lantas membuat semangat Puger kendur. Dia juga tidak mau menyerah untuk mengurus anak-anak Rumah Lentera.
Puger bercerita, sudah cukup lama dirinya punya perhatian lebih kepada para penderita HIV/AIDS. Pada 2006 dia sempat menjadi relawan di LSM Mitra Alam yang bertugas mengurus para pecandu narkoba jenis suntik. Dari aktivitas itulah dia berkenalan dengan banyak orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Jiwa kemanusiaan Puger pun tersentuh.