Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Dr Soetomo, Tokoh Pergerakan yang Cinta Dunia Pers hingga Akhir Hayat

Tuty Ocktaviany , Jurnalis-Rabu, 08 Februari 2017 |19:04 WIB
Dr Soetomo, Tokoh Pergerakan yang Cinta Dunia Pers hingga Akhir Hayat
Dr Soetomo (Foto: Okezone/Ist)
A
A
A

Dan benar saja, cita-cita menjadi dokter akhirnya dapat diraihnya. Pada 1911, Soetomo menyelesaikan pendidikannya. Kemudian, ia diangkat menjadi stadsverband di Semarang. Berturut-turut, ia dipindahkan ke Tuban, setahun berikutnya ke Lubuk Pakam, lalu 1914 ke Kepandjen, dan Magetan pada 1916.

Tugas berpindah-pindah masih terus berlanjut. Pada 1917, ia dipindahtugaskan ke Blora. Di kota ini, Soetomo mempersunting seorang noni Belanda, yang setia menjadi istrinya hingga maut memisahkan. Istri dr Soetomo meninggal pada 1934.

Pada 1918, dr Soetomo harus pindah kembali ke Baturaja. Kemudian pada 1919, ia melanjutkan studi ke negara Belanda.

Dr Soetomo tumbuh tatkala pemerintah kolonial telah memberlakukan Agrarische Wet 1970, yang memungkinkan pihak swasta lebih leluasa menjalankan usaha di bidang perkebunan dan industri.

Di berbagai tempat yang pernah ditinggali, ia melihat langsung bagaimana rakyat Hindia Belanda telah sedemikian sengsara akibat jeratan para pengusaha partikelir yang mendapat perlindungan pemerintah dalam melakukan berbagai kegiatan eksploitasi ekonomi.

Inilah salah satu faktor yang membuat rasa kemanusiaan dr Soetomo tergugah. Perkenalannya dengan dr Wahidin Soediro Hoesodo menambah pencerahan dan semangatnya. Kala itu, dr wahidin tengah berkampanye untuk menggalang dana guna memberi donasi kepada para pelajar bumiputra, terutama yang sekolah di STOVIA.

Soetomo bersama rekan-rekannya, berinspirasi oleh hal-hal yang dilakukan dr Wahidin. Ia pun kemudian berinisiatif membentuk sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908, dengan dr Soetomo sebagai ketua. Tujuan pembentukan organisasi tersebut adalah memajukan nusa dan bangsa Jawa dan Madura. Organisasi ini menyelenggarakan kongres pertama di Yogyakarta pada 5 Oktober di tahun yang sama dengan deklarasinya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement