Mereka mendapatkan ide tersebut lantaran kerap menemukan informasi bahwa air jeruk nipis bisa menghasilkan listrik karena keasamannya. Dari situ, mereka berpikir selain jeruk pasti ada benda lain yang bisa menghasilkan listrik. “Karena di Sidoarjo banyak rawa, kami coba melihat kandungan di lumpur. Ternyata bisa digunakan untuk listrik,’’ terang siswa kelas X Farmasi 1 itu.
“Kalau jeruk kan pasti boros karena bisa dibuat masakan. Harganya cenderung lebih mahal,’’ jelas Bima. Di sisi lain, selama ini belum ada yang memanfaatkan lumpur. Jumlahnya juga banyak. Terutama, di tambak wilayah timur Sidoarjo. “Konsep yang kami usung kan energi alternatif dari lingkungan sekitar yang jarang dilirik orang,’’ ujarnya.
Untuk membuat karya itu, mereka menghabiskan waktu sekitar sebulan. Mulai mengambil lumpur, merancang alat, uji coba, hingga latihan presentasi hasil karya mereka. “Setelah itu, sempat bingung presentasinya harus bagaimana. Sebab, itu penelitian pertama kami,’’ ucap remaja kelahiran Lumajang, 9 Mei 2001, tersebut.
Hampir setiap hari mereka belajar presentasi. Biasanya, mereka berlatih di kelas sepulang sekolah. Teman-teman mereka diajak untuk menjadi audiens yang melihat dan mendengarkan presentasi. Kadang, teman-teman mereka juga membantu mengevaluasi presentasi jika dirasa kurang menarik. “Kadang yang nonton ramai, kadang sepi,’’ ucapnya.
Saat kompetisi di Madura, mereka mendapatkan nilai yang tinggi. “Cara presentasinya saja yang kami rasa sangat kurang karena baru pertama ikut. Baru tahu, sedangkan jam terbang saingan sudah tinggi,’’ timpal Muhammad Surya Ramadhan.