Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

TOP FILES: Gowok, Tradisi Vulgar Edukasi Seks yang Sudah Punah

Randy Wirayudha , Jurnalis-Kamis, 02 Maret 2017 |07:32 WIB
TOP FILES: Gowok, Tradisi Vulgar Edukasi Seks yang Sudah Punah
Ilustrasi wanita Jawa (Foto: KITLV Leiden)
A
A
A

Biasanya dalam “latihan” atau yang biasa disebut ‘nyantrik’ itu, seorang anak akan menginap beberapa hari atau paling lama sepekan bersama sang gowok. Setelah dididik, sang anak laki-laki biasanya akan punya status sosial yang lebih tinggi dan jadi rebutan wanita-wanita, lho!

Eits, tapi ini bukan soal nafsu semata meski tradisi ini terbilang vulgar. Anak-anak remaja yang dididik gowok tidak hanya mesti mengerti soal hubungan badan di ranjang. Tapi juga semua hal tentang dunia pernikahan dengan pasangannya masing-masing, untuk menjadi lelanangin jagad yang sejati.

Jadi, intinya mereka dididik gowok agar lebih mantap dan lebih matang dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Gowok juga tidak hanya disewa keluarga si anak saat baligh, ada yang menyewa gowok saat si remaja laki-laki hendak menikah.

Kadang, gowok yang dipilih berdasarkan kesepakatan orangtua dan calon mertua si remaja laki-laki dan biasanya dipilih seorang wanita Jawa yang berusia antara 30-40 tahun.

“Masa pergowokan biasanya berlangsung hanya beberapa hari, paling lama satu minggu,” ungkap Ahmad Tohari dalam bukunya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement