“Satu hal yang tidak perlu diterangkan tetapi harus diketahui oleh semua orang adalah hal yang menyangkut tugas inti gowok. Yaitu mempersiapkan seorang perjaka agar tidak mendapat malu pada malam pengantin baru,” imbuhnya.
Seperti sedikit diuraikan di atas, tradisi vulgar ini datang seiring kehadiran Laksamana Cheng Ho ke Pulau Jawa pada tahun 1415. Tradisi ini dikenalkan seorang wanita bernama Goo Wok Niang.
Dalam masyarakat Jawa, pelafalannya berubah jadi “gowok”. Namun disebutkan, tradisi yang marak di daerah Purworejo dan Banyumas ini, mulai hilang di era 1960-an, lantaran memang tradisinya melanggar norma dan agama.
(Randy Wirayudha)