Sebelum penemuan minyak di Dhahran, warga Saudi kebanyakan hidup nomaden atau berpindah-pindah. Perekonomian negara hanya bergantung pada pendapatan pariwisata, khususnya dari kegiatan ziarah dan naik haji ke kota-kota suci di Makkah dan Madinah.
Namun setelahnya, Saudi berkembang pesat. Pemerintah membangun infrastruktur yang kuat. Menghiasi negaranya dengan sumur-sumur bor, memasang jaringan pipa, kilang dan pelabuhan minyak. Hasilnya, sekira 92% anggaran Saudi hari ini adalah sumbangsih penjualan minyaknya.
Sumber: Riyadh Connect
Selama itu pula, Saudi menjadi produsen sekaligus pengekspor minyak bumi terbesar di dunia. Sebagian besar transaksi perdagangannya dijalin dengan negara-negara barat. Akan tetapi, Saudi juga melirik peruntungannya dengan Jepang, China dan beberapa negara di Asia Tenggara, melalui hubungan diplomatik yang mutakhir.
Secara geopolitik, Arab Saudi juga mendapat kritik keras karena kepemilikannya atas minyak tersebut. Seperti diketahui, hampir seluruh negara industri di dunia amat bergantung pada sumber daya minyak. Dengan kelimpahan yang ada di tanah Saudi, pemerintah memegang kendali besar dalam menentukan kebijakan luar negeri, terutama terhadap kawasan yang mengelilinginya di Timur Tengah.
Penemuan minyak di Dahran juga mengubah demografi kerajaan. Setelah banyak orang terciprat keuntungannya dan menjadi kaya, banyak tenaga kerja asing didatangkan dari luar negeri. Salah satu penyumbang terbesar adalah Indonesia. Selebihnya datang dari AS, India, Pakistan dan Ethiopia, serta Timur Tengah.
(Silviana Dharma)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.